Waspada! Batas Pakai Ban Motor Bukan Hanya Saat Botak, Ini Penjelasan Ahli
Banyak pengendara motor mengira ban masih layak pakai selama pola alurnya masih terlihat. -Istimewa -
RADARPEKALONGAN.CO.ID - Banyak pengendara motor mengira ban masih layak pakai selama pola alurnya masih terlihat. Padahal, standar keselamatan berkendara menetapkan kriteria yang jauh lebih ketat dari sekadar tampilan fisik ban.
Oke Desiyanto, Instruktur Safety Riding Astra Motor Jawa Tengah, memaparkan bahwa kedalaman alur ban baru umumnya berada di kisaran 5-8 milimeter. Batas aman untuk berkendara di jalan basah adalah minimal 2 milimeter.
"Jika sisa alur tinggal 1,5 milimeter atau kurang, daya cengkeram ban di aspal basah bisa turun drastis lebih dari 50 persen," jelas Oke pada media.
BACA JUGA:Waspada Aquaplaning di Jalur Pantura, Mengerem Mendadak Saat Hujan Bisa Jadi Fatal
BACA JUGA:Longsor dan Banjir Terjadi Disejumlah Wilayah di Kabupaten Batang Usai Hujan Lebat
Fungsi Krusial Alur Ban Saat Hujan
Pola alur ban dirancang khusus sebagai saluran pembuangan air (drainase). Pada permukaan basah, alur ini berfungsi membelah dan mengalirkan air dari area kontak ban dengan aspal.
Ketika alur sudah terlalu tipis, kemampuan tersebut hilang. Ban berisiko mengalami aquaplaning atau hydroplaning, yaitu kondisi saat ban kehilangan traksi karena mengambang di atas lapisan air. Kendali kemudi dan pengereman pun menjadi tidak efektif, yang sering berujung pada kecelakaan.
Cek Tanda Keausan dengan TWI
Untuk memudahkan pemeriksaan, pabrikan ban memasang indikator keausan bernama Tread Wear Indicator (TWI). TWI berupa tonjolan kecil di dasar alur ban.
"Jika permukaan ban sudah sama rata dengan tonjolan TWI, itu adalah tanda darurat bahwa ban harus segera diganti," tegas Oke.
Selain keausan biasa, pengendara juga perlu mewaspadai beberapa kondisi ban berikut:
1. Keausan Tidak Merata (Flat Spot): Aus hanya di bagian tengah ban, umumnya akibat sering berkendara di jalan lurus. Kondisi ini mengurangi stabilitas saat menikung.
2. Retak-Retak Kecil: Menandakan kompon karet telah mengeras dan elastisitasnya berkurang, sehingga daya cengkram menurun meski alur masih dalam.
3. Benjolan (Distorsi): Mengindikasikan kerusakan pada struktur internal ban yang berpotensi menyebabkan ban pecah tiba-tiba.
Memasuki puncak musim hujan, kondisi ban wajib diperhatikan ekstra. Ban merupakan titik kontak tunggal kendaraan dengan jalan. Menggunakan ban yang aus di kondisi basah diibaratkan seperti berlari di lantai licin dengan sepatu yang sudah halus alasnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
