Asal-usul Nama Dukuh Watubelah Kelurahan Kajen, Jejak Tradisi Warga Membelah Batu Dari Sungai
Pilar atau monumen kecil sebagai "pintu masuk" Desa Watubelah-RadarPekalongan/MayaNurKhiqmah-MayanKhiqmah
KAJEN, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Nama dari sebuah desa sering kali menyimpan sebuah cerita yang panjang tentang kebiasaan, sejarah dan identitas masyarakat desa tersebut. Begitu pula dengan Dukuh Watubelah yang ada di Kelurahan KAJEN yang berada di Kecamatan KAJEN Kabupaten Pekalongan. Namanya lahir dari aktivitas ekonomi sekaligus tradisi gotong royong warga di masa lalu.
Nama 'Watubelah' tidak muncul begitu saja, melainkan berasal dari kebiasaan masyarakatnya yang menggantungkan hidupnya pada aktivitas mencari dan membelah batu besar dari sungai bersama-sama. Menurut beberapa warga setempat, sebagian besar warga Dukuh Watubelah, dulunya bermata pencaharian sebagai pencari batu di sungai.
Setiap hari, warga akan bersama-sama menuju sungai di Dukuh Watubelah untuk mencari batu-batu besar yang layak untuk diolah. Batu-batu tersebut dibawa dengan digotong bersama-sama ke tempat pembelahan batu. Setelah sampai ke tempat pembelahan batu, batu-batu tersebut tidak langsung dibelah, melainkan dikeringkan terlebih dahulu agar lebih mudah diolah. Setelah kering, barulah pembelahan batu dimulai. Proses pembelahan batu dilakukan beramai-ramai di malam hari di depan halaman rumah warga atau satu lokasi yang disepakati bersama.
“Setiap malam, warga sini pakai lampu cemplik untuk membelah batu, sekitar dari habis isya jam 7 sampai jam 10 malam, semuanya kumpul di depan rumah buat mukulin batu pakai palu,” ujar Nanik (54) seorang warga Dukuh Watubelah saat diwawancarai tim Radar pada Minggu, 25 Januari 2026.
Proses pembelahan batu ini bukanlah pekerjaan yang mudah. Dengan alat sederhana seperti palu, warga memukul dan memecah batu-batu besar tersebut menjadi batu-batu kecil yang hasilnya adalah kerikil yang digunakan sebagai bahan campuran bangunan maupun material jalan. Pekerjaan ini membutuhkan kerja sama, kesabaran, dan tenaga yang ekstra. Kegiatan ini selain menjadi sumber penghasilan juga menjadi tempat untuk mempererat hubungan sosial antar masyarakat.
“Jadi, batu-batu yang udah dibelah itu nantinya buat bikin aspal. Karena dulu warga sini belum tahu dagang, jadi lebih memilih belah batu walau hasilnya tidak seberapa,” ujar Sri (61) seorang warga Dukuh Watubelah yang sekarang berprofesi sebagai pedagang lontong. Batu-batu kecil yang sudah terkumpul itu, kemudian dijual oleh warga desa.
Sistem jualnya cukup unik karena setiap batu yang terkumpul, dijejer dan diletakkan di pinggir jalan desa, kemudian pembeli atau juragan memilih batu-batu yang akan dia beli dengan melihat-lihat terlebih dahulu yang sesuai dengan keinginannya. Jika sudah menemukan batu yang sesuai standarnya, juragan akan bertanya “ini punya siapa?” kemudian membelinya. Pada masa itu, batu dijual dengan satuan “kibik” atau satuan meter kubik yang 1 kibiknya dihargai sekitar Rp 25.000.
“Batu dibelah setiap hari, capek, uangnya tidak seberapa. Sehari kalau belahin batu 1 kibik ada yang dari Rp 25.000 sampai Rp 50.000, tidak sampai Rp 100.000. Batunya tidak setiap hari dijual, harus dikumpulin dulu yang banyak, kalau tidak banyak, orang tidak ada yang mau beli,” pungkas Sri (61). Meskipun penghasilannya tidak sebanding dengan perjuangan warga desa mengumpulkan dan membelah batu, penghasilan tersebut terbilang cukup untuk memenuhi kebutuhan ekonomi warga pada saat itu.
Aktivitas membelah batu inilah yang menjadi asal-usul dari nama dukuh 'Watubelah'. 'Watubelah' terdiri dari dua kata yaitu Watu yang berarti batu, dan Belah yang bisa berarti terbagi, memecah atau membelah. Watubelah berarti batu yang dibelah.
Nama tersebut pun akhirnya melekat dan digunakan sebagai nama dukuh hingga saat ini, menjadi penanda sejarah dan identitas dari masyarakatnya. Tradisi membelah batu di Dukuh Watubelah ini bukan hanya sekadar aktivitas ekonomi, melainkan mencerminkan nilai gotong royong masyarakat yang kuat. Setiap pekerjaan dilakukan bersama-sama, dimulai baru mencari batu di sungai, menggotong batu ke tempat pembelahan batu, membelahnya bersama-sama hingga mengumpulkannya. Tidak ada pekerjaan yang dilakukan secara mandiri, semua warga sadar bahwa pekerjaan yang berat akan terasa ringan jika dilakukan bersama-sama. “Walau hasilnya ga seberapa tapi warga desa saat itu merasa senang membelah batu. Perempuan, dan laki-laki semuanya ikut membelah batu bersama-sama.” pungkas Nanik (54).
Seiring berkembangnya zaman, aktivitas membelah batu berkurang, warga desa mulai mencari mata pencaharian lain seperti bertani, berdagang dan pekerjaan lain yang lebih sesuai kebutuhan. Meskipun aktivitas membelah batu tersebut tidak lagi dikerjakan, namun kisahnya menjadi abadi melalui penamaan dukuh. Sekarang juga ada pelarangan untuk mengambil batu di sungai karena takut terjadinya longsor. “Sekarang batunya sudah tidak boleh diambil, kalau diambil nanti jadi longsor,” ujar Sri (61).
Kisah asal-usul Desa Watubelah ini menjadi pengingat bahwa sumber daya alam jika dikelola dengan bijak dapat menjadi sumber ekonomi bagi masyarakat. (May)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
