iklan banner Honda atas

Siasat Wali Kota Aaf Hadapi Krisis Sampah: Lirik Modal Asing Hingga Gandeng Empat Daerah Tetangga

 Siasat Wali Kota Aaf Hadapi Krisis Sampah: Lirik Modal Asing Hingga Gandeng Empat Daerah Tetangga

SAMPAH - Kondisi sampah yang menumpuk di TPA Degayu.-ABDURROHMAN-

PEKALONGAN, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Meski dihadapkan pada tantangan penyesuaian anggaran di tahun 2026, Pemerintah Kota (Pemkot) Pekalongan tak lantas patah arang dalam urusan lingkungan. Wali Kota Pekalongan, HA Afzan Arslan Djunaid, memastikan pengelolaan sampah tetap menjadi prioritas dengan menggandeng kekuatan investor luar negeri.

Wali Kota yang akrab disapa Aaf ini mengungkapkan, pihaknya sedang menjalin komunikasi intensif dengan sejumlah calon investor internasional. Tak tanggung-tanggung, pengusaha dari Malaysia dan China mulai menunjukkan ketertarikannya untuk mengolah sampah di Kota Batik.

“Kita sekarang sudah ada komunikasi dengan investor, ada yang dari Malaysia dan dari China. Mudah-mudahan bisa di-follow up, sehingga penanganan sampah kita tidak menggunakan APBD, tapi dari dana CSR investor,” ujar Aaf usai penyerahan SK Pensiun di Ruang Buketan Setda, Selasa (27/1/2026).

Andalkan TPS-3R dan Peran KSM

Strategi "jemput bola" investor ini dilakukan untuk menyiasati pemotongan anggaran yang berdampak pada berbagai sektor. Aaf bersyukur pondasi infrastruktur sampah seperti TPS-3R sudah mulai dibangun sejak tahun lalu, sehingga beban kerja tahun ini sedikit terbantu.

Sejauh ini, keberadaan Kelompok Swadaya Masyarakat (KSM) di tingkat kelurahan terbukti menjadi "ujung tombak" yang efektif dalam menekan volume sampah.

“Dengan berdirinya KSM-KSM yang sudah siap dan operasional, ini sudah mengurangi sekitar 50 sampai 60 persen pembuangan sampah ke TPA,” jelasnya dengan nada optimis.

Kejar Target Sebelum TPA Degayu Tutup

Langkah cepat ini bukan tanpa alasan. Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) Degayu dijadwalkan berhenti beroperasi pada akhir Februari 2026 sesuai instruksi Kementerian Lingkungan Hidup (KLH). Artinya, Pemkot hanya punya waktu satu bulan untuk mematangkan solusi jangka panjang.

Sebagai langkah darurat sekaligus strategis, Pemkot Pekalongan juga membangun sinergi dengan wilayah sekitar. Malam ini (27/1), dijadwalkan akan ada penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan empat kabupaten tetangga di Hotel Aston Syariah.

“Mudah-mudahan ini bisa mempercepat komunikasi dan deal dengan investor, sehingga persoalan sampah bisa segera tertangani,” tegas Aaf.

Fokus Efisiensi Tanpa Korban Pelayanan

Meski anggaran tahun 2026 mengalami penyesuaian, Aaf berkomitmen bahwa inovasi dalam pelayanan publik—khususnya kebersihan kota—tidak boleh mandek. Kerja sama dengan pihak ketiga (investor) diharapkan menjadi kunci agar Kota Pekalongan tetap bersih tanpa harus menguras kantong daerah.

Melalui kolaborasi lintas negara dan lintas daerah ini, Wali Kota Aaf berharap persoalan sampah yang selama ini menjadi momok di Kota Batik bisa mendapatkan solusi yang permanen dan modern. (dur)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: