iklan banner Honda atas

Perjuangan Dokter Anak RSUD Batang Berbuah Manis, Penanganan Stunting di Batang Tunjukkan Hasil

Perjuangan Dokter Anak RSUD Batang Berbuah Manis, Penanganan Stunting di Batang Tunjukkan Hasil

BERIKAN - Dokter Spesialis Anak RSUD Batang, dr Tan Evi Susanti SpA saat memberikan susu khusus stunting balita Batang. -Radar Pekalongan/Novia Rochmawati-

BATANG, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Upaya penanganan stunting di Kabupaten Batang mulai menunjukkan titik terang. Selain melalui pendampingan intensif oleh tenaga medis, kini bantuan Susu Pangan Medik Khusus (PMK) juga mulai disalurkan melalui RSUD Kalisari Batang untuk balita dengan kondisi gizi buruk dan gizi kurang.

Dokter Spesialis Anak RSUD Batang, dr. Tan Evi Susanti, Sp.A, menjadi salah satu sosok yang aktif mendampingi anak-anak binaannya agar keluar dari kondisi stunting dan gizi buruk. Dalam program pendampingannya, dr Evi telah mengintervensi 11 anak.

Dari jumlah tersebut, sebanyak 3 anak berhasil “lulus” karena kondisi gizinya membaik hingga kategori normal. Sementara itu, 3 anak lainnya terpaksa drop out (DO), dan saat ini tersisa 8 anak yang masih dalam pendampingan intensif.

“Yang sudah lulus tetap kami lanjutkan pemberian susu sampai jatahnya habis. Satu anak bisa mendapatkan hingga 50 dus susu,” ujarnya.

BACA JUGA:Libur Lebaran, RSUD Batang Buka Layanan Poli Saraf dan Obgyn, Ini Jadwalnya!

Hasil pendampingan menunjukkan perkembangan signifikan. Anak-anak yang sebelumnya mengalami gizi buruk maupun gizi kurang berangsur membaik menjadi gizi baik. Bahkan, anak yang sebelumnya mengalami stunting mulai menunjukkan pertumbuhan tinggi badan yang kembali normal.

Salah satu contoh, terdapat anak yang awalnya memiliki berat badan hanya 6,8 kilogram, kini meningkat menjadi 10 kilogram setelah menjalani intervensi dan pendampingan.

BACA JUGA:Ancaman Diabetes Dini Mengintai Remaja, Dokter Anak RSUD Batang Soroti Bahaya Gula Tersembunyi

Menurut dr Evi, kategori gizi baik mengacu pada standar kurva pertumbuhan, yakni berada di rentang minus 2 hingga plus 2 berdasarkan acuan World Health Organization (WHO), sehingga penilaian dilakukan secara objektif.

Dalam proses penanganan, tidak semua anak harus menggunakan selang makan. Jika asupan nutrisi melalui mulut sudah adekuat, maka pemasangan selang tidak diperlukan.

“Kalau per mulut sudah cukup, tidak perlu pasang selang. Nanti dilihat saat kontrol,” jelasnya.

Namun, perjuangan tersebut tidak lepas dari berbagai tantangan. Salah satu kendala terbesar justru datang dari kurangnya konsistensi orang tua dalam menjalankan program intervensi.

“Sudah diedukasi berkali-kali, tapi tetap drop out. Ada yang merasa malu karena anaknya harus menggunakan selang makan, apalagi saat Lebaran,” ungkapnya.

Ia bahkan sempat menawarkan solusi dengan melepas sementara selang makan selama Lebaran dan memasangnya kembali setelahnya, namun tetap ditolak oleh orang tua.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait