Disdikbud Batang Evaluasi TKA 2026, Numerasi Jadi Fokus Perbaikan
Ilustrasi siswa SMP tengah mengikuti tes.-Gemini -
BATANG – Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kabupaten BATANG tengah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan Tes Kemampuan Akademik (TKA) Tahun 2026.
Langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya peningkatan mutu pendidikan, terutama dalam memperkuat numerasi, literasi, serta pembelajaran berbasis berpikir kritis bagi siswa.
Sekretaris Disdikbud Kabupaten Batang, Tri Adi Susanto, mengungkapkan bahwa evaluasi TKA sangat krusial untuk memetakan berbagai faktor yang memengaruhi hasil belajar peserta didik. Dari hasil pemetaan itu, selanjutnya disusun strategi perbaikan pembelajaran di masing-masing satuan pendidikan.
“Kami sepakat bahwa hasil TKA harus dilihat secara objektif sebagai bahan refleksi bersama. Evaluasi ini penting untuk mengidentifikasi faktor-faktor yang memengaruhi capaian peserta didik sekaligus menyusun langkah perbaikan yang lebih efektif ke depan,” ujarnya di kantor Disdikbud setempat, Kamis (4/6/2026).
Menurut Tri, evaluasi tidak hanya menindaklanjuti masukan dari Kepala SMP Negeri 2 Bandar, tetapi juga merangkul aspirasi para kepala sekolah, pengawas, koordinator wilayah pendidikan, dan guru yang menghadapi tantangan serupa selama ujian berlangsung.
BACA JUGA:Dies Natalis Ke-35, SMPN 2 Bandar Perkuat Branding Sekolah Berbasis Agama
BACA JUGA:DPRD Batang Minta Diknas dan Sekolah Siapkan Posko Pendampingan SPMB, Orang Tua Banyak Kebingungan
“Ini bukan hanya persoalan satu sekolah, tetapi menjadi pembelajaran bagi seluruh satuan pendidikan,” tegasnya.
Numerasi Masih Jadi Pekerjaan Rumah
Tri memaparkan bahwa capaian literasi siswa Kabupaten Batang terbilang baik dan bahkan melampaui rata-rata Provinsi Jawa Tengah. Namun, kemampuan numerasi dinilai masih perlu ditingkatkan, terutama dalam hal penalaran, analisis, dan pemecahan masalah.
Kondisi serupa, kata dia, juga dialami oleh banyak daerah lain di Jawa Tengah maupun secara nasional. Tantangan utamanya adalah membangun budaya berpikir kritis dan kemampuan menyelesaikan soal yang membutuhkan nalar tingkat tinggi.
TKA tahun ini merupakan tahap awal implementasi asesmen dengan karakteristik soal yang berbeda dari evaluasi sebelumnya. Pelaksanaannya juga beririsan dengan sejumlah agenda akademik akhir tahun seperti ujian semester, ujian praktik, dan persiapan kelulusan.
Alhasil, sekolah masih membutuhkan masa transisi untuk beradaptasi dengan pola asesmen berbasis penalaran.
“Persiapan perlu dilakukan lebih awal sehingga sekolah memiliki waktu yang cukup untuk melakukan penguatan materi, pembiasaan soal berbasis penalaran, serta evaluasi hasil try out secara berkelanjutan,” ujarnya.
Soal Konteks dan HOTS Jadi Tantangan Terbesar
Tri menambahkan, tantangan utama TKA bukan sekadar penguasaan materi, melainkan kemampuan siswa dalam memahami soal berbasis konteks, menganalisis informasi, menghubungkan konsep, lalu menentukan solusi secara tepat.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
