iklan banner honda Juni 2026

Jurnalis Dituntut Adaptif di Era Digital, Kuasai Audio Visual Tanpa Abaikan Kode Etik

Jurnalis Dituntut Adaptif di Era Digital, Kuasai Audio Visual Tanpa Abaikan Kode Etik

Kelas JFC Batch 3 2026 bersama Jamalul Insani-IST-

JAKARTA, RADARPEKALONGAN.CO.ID  – Perkembangan teknologi digital membawa perubahan besar dalam cara media memproduksi dan menyebarkan berita. Di tengah derasnya arus informasi, jurnalis kini dituntut tidak hanya mahir menulis, tetapi juga menguasai produksi konten audio visual yang sesuai dengan kebutuhan audiens digital.

Hal tersebut mengemuka dalam materi bertajuk Jurnalisme Audio Visual di Era Digital” yang disampaikan pemateri, Jamalul Insan, pada kegiatan Journalism Fellowship on CSR 2026 Batch III, Rabu (10/6/2026).

Jamalul menegaskan, transformasi digital telah mengubah pola komunikasi publik secara signifikan. Media, kata dia, harus mampu beradaptasi dengan berbagai platform distribusi informasi yang kini bergerak sangat cepat.

“Perubahan teknologi dan media sosial membuat cara kita memproduksi dan mengonsumsi informasi berubah sangat signifikan,” ujarnya.

Ia menyebutkan, jurnalis masa kini tidak lagi cukup berperan sebagai penulis berita, tetapi juga harus mampu menjadi content producer lintas platform.

Dalam pemaparannya, Jamalul mengidentifikasi tiga tren utama jurnalisme audio visual saat ini, yakni mobile journalism (Mojo), podcast video, serta dominasi konten video vertikal berdurasi pendek seperti TikTok, Reels, dan Shorts.

Menurutnya, mobile journalism menjadi salah satu solusi efisiensi kerja karena memungkinkan jurnalis melakukan peliputan hanya dengan perangkat ponsel tanpa bergantung pada kru besar.

Di sisi lain, pola konsumsi informasi publik juga bergeser ke arah visual-first, di mana konten video lebih banyak dikonsumsi dibandingkan teks.

Meski demikian, Jamalul mengingatkan bahwa kecepatan produksi konten tidak boleh mengorbankan akurasi dan prinsip dasar jurnalistik.

“Produksi konten boleh cepat, tetapi jangan mengorbankan akurasi. Fokus pada fakta, gunakan narasi visual yang kuat, pahami audiens, dan hindari sensasi berlebihan,” tegasnya.

Ia juga menyoroti tantangan lain di era digital, seperti maraknya disinformasi, clickbait, hingga perkembangan teknologi deepfake yang dapat menyesatkan publik.

Dalam sesi diskusi, Wartawan Realitapost.com Dian Marfani menyoroti tantangan media arus utama yang kerap kalah cepat dibandingkan informasi di media sosial, terutama konten yang berasal dari unggahan warganet.

Menanggapi hal tersebut, Jamalul menilai media justru memiliki keunggulan pada aspek interaktivitas dan keterlibatan publik dalam proses peliputan.

“Keunggulan kita di platform sekarang adalah interaktif. Kita bisa membuka seluas-luasnya partisipasi masyarakat,” ujarnya.

Ia menjelaskan, kanal pelaporan warga dapat menjadi sumber awal informasi, namun tetap harus melalui proses verifikasi ketat oleh redaksi.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: