Bertahan di Tengah Disrupsi Digital, Media Lokal Batang Bertransformasi Lewat Mojo
Jurnalis media lokal di Kabupaten Batang mulai mengandalkan smartphone untuk memproduksi konten berita berbasis video sebagai bentuk adaptasi terhadap perkembangan media digital dan perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.-Radar Pekalongan/Novia Rochmawati-
BATANG, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Disrupsi digital yang mengubah cara masyarakat mengakses informasi memaksa media lokal beradaptasi. Di Kabupaten Batang, sejumlah media mulai mengandalkan Mobile Journalism (Mojo) atau jurnalisme berbasis smartphone sebagai strategi bertahan sekaligus menjawab kebutuhan audiens yang semakin akrab dengan konten video di media sosial.
Perubahan tersebut tidak sekadar menyangkut penggunaan perangkat yang lebih praktis. Jurnalis kini dituntut menguasai berbagai keterampilan sekaligus, mulai dari menulis berita, mengambil gambar, merekam video, melakukan wawancara, hingga menyunting konten secara mandiri hanya dengan memanfaatkan telepon pintar.
Media digital lokal seperti Ayo Batang dan Pojok Baca menjadi contoh bagaimana transformasi itu dilakukan. Keduanya aktif memproduksi konten video pendek untuk berbagai platform digital sebagai upaya mengikuti perubahan pola konsumsi informasi masyarakat.
Pengelola Pojok Baca, Muslihin, mengatakan penerapan Mobile Journalism dilakukan agar media lokal tetap mampu bersaing di tengah derasnya arus informasi yang beredar melalui media sosial maupun konten yang diproduksi masyarakat.
“Kami tidak ingin tertinggal dalam hal kecepatan penyajian informasi. Namun yang terpenting, produk jurnalistik tetap harus mengedepankan verifikasi dan kode etik sehingga memiliki nilai lebih dibanding konten yang beredar tanpa proses jurnalistik,” ujarnya.
Menurutnya, kecepatan menjadi salah satu tuntutan di era digital, tetapi media tetap memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan informasi yang akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Hal senada disampaikan Edo Muslihun dari Ayo Batang. Ia menilai transformasi menuju format video digital merupakan konsekuensi dari perubahan perilaku audiens yang kini lebih menyukai konten visual dibandingkan teks panjang.
“Sekarang masyarakat lebih cepat tertarik pada informasi yang dikemas dalam bentuk video. Karena itu media harus mampu beradaptasi tanpa meninggalkan prinsip-prinsip jurnalistik,” katanya.
Edo mengaku kemampuan memproduksi konten berbasis smartphone diperoleh secara otodidak. Berbekal pengalaman sebagai jurnalis media cetak dan online, ia belajar dari berbagai sumber untuk menyesuaikan diri dengan tuntutan baru di dunia jurnalistik digital.
“Saya belajar sendiri sedikit demi sedikit. Kalau ada yang belum paham, biasanya saya bertanya kepada teman-teman dari media televisi. Karena awalnya basis saya memang di penulisan berita,” ungkapnya.
Fenomena yang terjadi di Batang sejalan dengan perkembangan industri media secara nasional. Dalam kegiatan Journalism Fellowship on CSR (JFC) 2026, Digital Content and Visual Media Trainer Abdul Malik MSN menjelaskan bahwa keberhasilan Mobile Journalism bukan ditentukan oleh kecanggihan perangkat yang digunakan, melainkan kemampuan jurnalis dalam menemukan fakta, menangkap momen penting, dan mengemasnya menjadi cerita yang menarik.
Menurut Abdul Malik, salah satu aspek yang kerap diabaikan dalam produksi video adalah kualitas audio. Padahal, suara memiliki peran yang sangat penting dalam menentukan kenyamanan audiens saat menikmati sebuah tayangan.
“Penonton mungkin masih bisa menerima kualitas gambar yang sederhana, tetapi mereka akan sulit bertahan jika kualitas audionya buruk,” jelasnya.
Karena itu, kualitas rekaman suara narasumber maupun suara alami di lokasi peliputan menjadi perhatian penting dalam produksi konten jurnalistik berbasis video.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
