banner honda Juli 2026

Enam Tahun Tak Produktif Akibat Rob, Lahan Pesisir Batang Bangkit Lewat Program Bio Salin

Enam Tahun Tak Produktif Akibat Rob, Lahan Pesisir Batang Bangkit Lewat Program Bio Salin

Enam Tahun Tak Produktif Akibat Rob, Lahan Pesisir Batang Bangkit Lewat Program Bio Salin-Radar Pekalongan/Novia Rochmawati-

BATANG, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Lahan pertanian yang selama sekitar enam tahun tidak produktif akibat banjir rob dan intrusi air laut di pesisir Kabupaten Batang kini mulai bangkit. Melalui Program Bio Salin yang diinisiasi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Pemerintah Kabupaten Batang, PT Perusahaan Gas Negara (PGN), akademisi, dan kelompok tani, lahan yang sebelumnya terabaikan mulai kembali dimanfaatkan untuk mendukung ketahanan pangan dan peningkatan ekonomi masyarakat pesisir.

Program yang diluncurkan di kawasan Sicepit, Kelurahan Kasepuhan, Kecamatan Batang, itu mengusung konsep minapadi salin, yakni sistem budidaya terpadu yang menggabungkan padi toleran salinitas, ikan nila salin, dan rumput laut dalam satu hamparan lahan.

Kondisi rob yang terjadi selama bertahun-tahun telah menyebabkan lahan pertanian di wilayah pesisir Batang menjadi salin dan air tanah berubah menjadi payau. Berdasarkan data program, genangan permanen akibat rob di wilayah pesisir Batang mencapai 667,944 hektare dengan tingkat abrasi sekitar 4,47 meter per tahun.

Dampak kondisi tersebut cukup besar terhadap sektor pertanian. Produktivitas padi yang sebelumnya mampu mencapai sekitar 8 ton per hektare turun drastis menjadi hanya sekitar 3 ton per hektare atau menurun hingga 62,5 persen. Bahkan sebagian lahan tidak lagi dapat dimanfaatkan secara optimal oleh petani selama bertahun-tahun.

Deputi Bidang Riset dan Inovasi Daerah BRIN, Yopi, mengatakan tantangan perubahan iklim, intrusi air laut, alih fungsi lahan, serta meningkatnya kebutuhan pangan nasional menuntut hadirnya solusi berbasis ilmu pengetahuan yang adaptif dan berkelanjutan.

“Program Minapadi Salin merupakan bukti nyata bahwa riset dan inovasi mampu menjawab tantangan pembangunan. Lahan salin yang selama ini dianggap marginal dapat diubah menjadi sumber pangan dan ekonomi baru yang memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” kata Yopi.

Menurutnya, hasil riset tidak boleh berhenti di laboratorium, tetapi harus dapat diterapkan di lapangan dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Program Minapadi Salin juga menjadi contoh hilirisasi hasil riset BRIN yang diterapkan langsung oleh petani dan masyarakat pesisir untuk meningkatkan produktivitas serta membuka peluang usaha baru.

Dalam program tersebut, minapadi salin dikembangkan pada lahan seluas 2,26 hektare yang dikelola Gapoktan Sido Barokah Mulyo di Kelurahan Kasepuhan. Selain itu, budidaya padi salin juga dilakukan pada lahan seluas 20 hektare oleh Poktan Intani Kasepuhan dan 10 hektare oleh Poktan Dewi Sri VI di Desa Depok, Kecamatan Kandeman.

Pada sistem minapadi salin, padi ditanam sebagai komoditas utama, sementara ikan nila salin dibudidayakan di saluran air atau caren yang mengelilingi petakan sawah. Rumput laut turut dikembangkan sebagai komoditas tambahan yang diharapkan mampu meningkatkan pendapatan petani.

Kepala Pusat Riset Sistem Industri dan Manufaktur Berkelanjutan BRIN, Nugroho Adi Sasongko, menjelaskan program ini menerapkan pendekatan Green Manufacturing dalam pengelolaan lahan salin.

“Melalui pendekatan Green Manufacturing, kami tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga memastikan efisiensi penggunaan sumber daya, pengurangan dampak lingkungan, dan terciptanya nilai tambah ekonomi bagi masyarakat,” ujarnya.

Pendekatan tersebut mencakup sistem produksi yang lebih efisien, penerapan prinsip ekonomi sirkular, kajian keberlanjutan berbasis Life Cycle Assessment (LCA), hingga pengembangan rantai nilai dan hilirisasi pascapanen.

Selain itu, BRIN juga menghadirkan sejumlah inovasi teknologi pendukung. Kepala Pusat Riset Teknologi Proses BRIN, Hens Saputra, menjelaskan pihaknya mengembangkan Slow Release Fertilizer (SRF) atau pupuk lepas lambat untuk meningkatkan efisiensi pemupukan pada lahan berkadar garam tinggi.

Teknologi tersebut memungkinkan unsur hara tersedia secara bertahap sesuai kebutuhan tanaman sehingga produktivitas padi di lahan salin dapat meningkat.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: