banner honda Juli 2026

Komunitas Vintage Dorong Pemanfaatan Barang Lawas Bernilai Ekonomi

Komunitas Vintage Dorong Pemanfaatan Barang Lawas Bernilai Ekonomi

Koleksi- Riyanto menunjukkan koleksi barang vintage yang dipamerkan selama pekan kreatif Nusantara hadir di GOR Jetayu.-FOTO-Dwi Fusti Hana Pertiwi

Radarpekalongan.co.id – Keikutsertaan Pekalongan Vintage Community dalam Pekan Kreatif Nusantara 2026 di GOR Jetayu, 18–21 Juni, tidak hanya menjadi ajang memamerkan koleksi benda-benda bersejarah, tetapi juga mengangkat potensi ekonomi kreatif dari barang-barang lawas yang masih memiliki nilai jual dan nilai edukasi.

Dalam rangkaian peringatan 12 Tahun Kota Pekalongan sebagai Kota Kreatif Dunia UNESCO, komunitas tersebut menghadirkan beragam koleksi mulai dari setrika kuno, mesin jahit, kamera analog, prangko, koin kuno, buku-buku lawas, hingga berbagai benda koleksi lainnya yang sebagian berusia ratusan tahun.

Ketua Pekalongan Vintage Community, Riyanto, mengatakan pameran tersebut menjadi sarana untuk mengenalkan sejarah kepada generasi muda sekaligus menunjukkan bahwa barang-barang lama yang sering dianggap tidak bernilai sebenarnya masih memiliki potensi ekonomi apabila dirawat dan dimanfaatkan secara kreatif.

BACA JUGA:Fraksi PPP Apresiasi Raihan Opini WTP ke-10, Soroti Alokasi BTT dan Penerangan Jalan

BACA JUGA:Plt. Bupati Pekalongan Sukirman: Nobar Piala Dunia Jadi Momentum Bangkitkan UMKM Lokal

BACA JUGA:Ngeri! Mobil Berisi Ayah Dan Anak Terjun ke Jurang 300 Meter di Pekalongan, Begini Kronologinya

“Kami ingin mengedukasi anak-anak muda agar tahu seperti apa setrika zaman dulu, prangko, mesin jahit, kamera analog, dan berbagai benda lainnya. Banyak generasi sekarang yang belum pernah melihat langsung benda-benda tersebut. Dari sini mereka bisa belajar sejarah sekaligus melihat bahwa barang lama masih memiliki nilai,” ujarnya, (18/6/2026).

Menurutnya, komunitas yang dipimpinnya merupakan wadah kolaborasi berbagai komunitas seperti literasi buku, otomotif klasik Volkswagen (VW) dan Vespa, komunitas batu permata, hingga kolektor pusaka. Kolaborasi tersebut menjadi kekuatan dalam menghadirkan beragam koleksi yang tidak hanya menarik dari sisi sejarah, tetapi juga memiliki nilai ekonomi bagi para kolektor.

Ia menjelaskan, beberapa koleksi yang dipamerkan berasal dari era 1800-an, termasuk koin kuno, pusaka, dan buku-buku lawas. Bahkan, jumlah koleksi yang dimiliki komunitas jauh lebih banyak dibanding yang ditampilkan dalam pameran kali ini.

BACA JUGA:Plt. Bupati Pekalongan Sukirman: Duta Wisata Harus Jadi Wajah Promosi Daerah dan Penggerak Pariwisata

BACA JUGA:Titiek Soeharto Apresiasi Transformasi Nusakambangan Jadi Sentra Ketahanan Pangan dan Pembinaan Warga Binaan

BACA JUGA:Mohammad Saleh Dampingi Menteri ESDM Tinjau Bantuan Listrik Desa di Purworejo

“Yang dibawa ke sini belum semuanya. Koleksi kami masih banyak di basecamp. Ada barang-barang yang memang memiliki nilai sejarah tinggi dan sulit ditemukan kembali,” katanya.

Ia juga mengungkapkan, minat generasi muda terhadap barang vintage terus meningkat. Hal tersebut terlihat dari banyaknya pengunjung yang datang untuk bertanya mengenai fungsi, sejarah, hingga nilai koleksi dari benda-benda yang dipamerkan.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: