banner honda Juli 2026

Mohammad Saleh Ajak Mahasiswa Unwahas Perkuat Nalar Kritis Hadapi Banjir Informasi Digital

Mohammad Saleh Ajak Mahasiswa Unwahas Perkuat Nalar Kritis Hadapi Banjir Informasi Digital

Wakil Ketua DPRD Jateng Mohammad Saleh saat menjadi narasumber Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa bertema Manifesto Nalar Kritis: Kepemimpinan Mahasiswa Berbasis Aswaja dalam Menavigasi Krisis Geopolitik dan Disrupsi Global di Unwahas Semarang.-Dok.-

SEMARANG, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, mengajak mahasiswa Universitas Wahid Hasyim (Unwahas) Semarang untuk terus mengasah nalar kritis di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi di media sosial.

Menurutnya, kemampuan berpikir kritis menjadi fondasi penting agar generasi muda tidak mudah terpengaruh hoaks, konten hasil rekayasa deepfake, maupun berbagai informasi provokatif yang semakin banyak beredar di ruang digital.

Hal tersebut disampaikan Saleh saat menjadi narasumber dalam kegiatan Latihan Keterampilan Manajemen Mahasiswa bertema Manifesto Nalar Kritis; Kepemimpinan Mahasiswa Berbasis Aswaja dalam Menavigasi Krisis Geopolitik dan Disrupsi Global yang digelar di Auditorium Fakultas Kedokteran Kampus II Unwahas Semarang, Sabtu, 27 Juni 2026.

Dalam pemaparannya, Saleh menegaskan bahwa pemuda dan mahasiswa selalu menjadi motor penggerak perubahan dalam setiap perjalanan sejarah bangsa. Menurutnya, perubahan lahir dari kemampuan berpikir kritis yang kemudian diwujudkan dalam tindakan dan perjuangan nyata.

"Pemuda dan mahasiswa selalu menginisiasi perubahan dalam setiap perjalanan sejarah bangsa melalui nalar kritisnya yang dimanifestasikan, dinyatakan, dan diwujudkan dalam perjuangan," ujarnya.

BACA JUGA:Wakil Ketua DPRD Jateng Dorong Percepatan Perbaikan Jalan Pantura Barat

BACA JUGA:FISIP Undip Bedah Buku Politik, Mohammad Saleh Soroti Pentingnya Menjembatani Teori dan Praktik

Ketua DPD Partai Golkar Jawa Tengah itu menilai, di tengah banjir informasi saat ini, mahasiswa memiliki peran strategis sebagai agen literasi sekaligus penyebar kesadaran di tengah masyarakat.

Ia menegaskan, mahasiswa tidak boleh menerima setiap informasi secara mentah-mentah. Sebaliknya, mereka harus mampu memverifikasi kebenaran informasi dan berani mempertanyakan berbagai hal yang dinilai tidak sejalan dengan nilai keadilan sosial.

"Di tengah banjir informasi dan konten saat ini, gerakan mahasiswa adalah harapan. Mahasiswa harus menjadi pelopor untuk menyadarkan semua orang agar tidak menerima informasi secara mentah-mentah, bahkan harus berani mempertanyakan status quo demi keadilan sosial," katanya.

Saleh juga mengingatkan mahasiswa agar tidak mudah terombang-ambing oleh perkembangan teknologi, seperti kecerdasan buatan (AI), deepfake, maupun maraknya buzzer yang kerap menghadirkan informasi seolah-olah benar.

"Tidak perlu bingung di tengah serbuan AI, deepfake, buzzer, di mana semuanya seolah memberi kebenaran. Mahasiswa Aswaja tidak perlu bingung, lakukan tafakur, bukan ikut-ikutan. Kedepankan tabayyun, urusan viral belakangan saja," tegasnya.

Menurut Saleh, kemampuan berpikir kritis harus dibangun melalui kebiasaan memeriksa sumber informasi, memahami konteks sebuah konten, serta menelaah motif di balik penyebaran informasi tersebut.

"Latih nalar kritis dengan mempraktikkan cek sumber informasi, konteks konten, dan motif. Jangan hanya menjadi konsumen informasi dan konten. Jangan sampai teracuni oleh konten, bangun kekebalan atau imunitas dengan nalar kritis," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait