Mengalami Rasa Malas Terus-Menerus? Ini Cara Mengatasinya Menurut Neurosains dan Andrew Huberman
RASA MALAS - Mengatasi rasa malas bukan persoalan mengatasi mood saja tapi persoalan konsisten dengan waktu sirkadian tubuh. Inilah penjelasan menurut ilmu neurosains.-Channel Youtube Ninda Fer-
RADARPEKALONGAN - Pernahkah Anda merasa malas terus-menerus meski sebenarnya memiliki banyak impian dan target yang ingin dicapai?
Anda ingin hidup lebih disiplin. Ingin bekerja lebih produktif. Ingin memiliki penghasilan yang lebih baik.
Bahkan sudah menonton berbagai video motivasi dan membaca buku pengembangan diri.
Namun ketika saatnya mulai bertindak, tubuh justru terasa berat dan pikiran seperti kehilangan tenaga.
Akhirnya waktu habis untuk scrolling media sosial, menonton video pendek, atau melakukan aktivitas yang sebenarnya tidak terlalu penting. Setelah itu muncul rasa bersalah karena satu hari kembali berlalu tanpa kemajuan yang berarti.
Jika Anda sedang mengalami kondisi tersebut, ada kabar baik. Menurut ilmu neurosains, rasa malas terus-menerus tidak selalu disebabkan oleh kurangnya motivasi atau lemahnya kemauan.
Dalam banyak kasus, rasa malas justru merupakan sinyal bahwa sistem biologis tubuh sedang tidak bekerja secara optimal.
Penjelasan menarik mengenai hal ini dibahas oleh kreator edukasi Ninda Fer yang mengulas pandangan Andrew Huberman, seorang profesor neurosains dari Stanford University.
Menurutnya, tubuh manusia memiliki sistem pengaturan energi yang sangat kompleks dan berpengaruh besar terhadap produktivitas sehari-hari.
Mengapa Rasa Malas Terus-Menerus Bisa Terjadi?
Banyak orang bertanya, "Mengapa saya merasa malas padahal saya punya tujuan hidup yang jelas?"
Pertanyaan tersebut ternyata memiliki jawaban ilmiah.
Menurut Andrew Huberman, salah satu penyebab utama rasa malas yang berkepanjangan adalah terganggunya ritme sirkadian atau 'circadian rhythm'.
Ritme sirkadian merupakan jam biologis alami yang mengatur kapan tubuh harus aktif, kapan harus beristirahat, kapan hormon diproduksi, dan kapan energi mencapai puncaknya.
Bayangkan tubuh Anda seperti sebuah smartphone yang memiliki sistem notifikasi otomatis. Ketika jaringan internet berjalan normal, semua pesan masuk tepat waktu. Namun ketika sinyal terganggu, notifikasi menjadi terlambat dan tidak sinkron.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
