Prodi PAI FTIK UIN Gus Dur Gandeng Pakar Jerman, Siapkan Kurikulum Berstandar Internasional

Kamis 24-09-2026,15:43 WIB
Reporter : Ade Asep Syarifuddin
Editor : Ade Asep Syarifuddin

BOJONG — Langkah strategis menuju world-class university terus digencarkan oleh Universitas Islam Negeri Kiai Haji Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan. 

Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Fakultas Tarbiyah dan Ilmu Kependidikan (FTIK) baru saja menggelar sesi review kurikulum mendalam bersama Senior Expert asal Jerman, Annette Catherine Rembold, selama 2 pekan, berakhir pada Kamis, 24 September 2026.

Pertemuan yang berlangsung di ruang Dekan FTIK UIN Gus Dur ini dipimpin langsung oleh Dekan FTIK, Prof. Dr. Muhlisin, M.Ag., dengan suasana yang serius namun santai, serta dipandu penterjemah oleh Sekretaris Prodi Bahasa Inggris FTIK, Eros Meilina Sofa, M.Pd.

Kehadiran Annette—yang merupakan relawan dari lembaga Senior Expert Service (SES) Jerman—fokus pada evaluasi dan penguatan kurikulum berbasis Outcome-Based Education (OBE).

Mengapa Kurikulum OBE Menjadi Kunci Akreditasi Internasional?

Kurikulum OBE (Outcome-Based Education) saat ini menjadi standar emas dunia pendidikan modern. 

Pendekatan ini berfokus secara ketat pada pencapaian hasil belajar dan kompetensi nyata yang dikuasai mahasiswa setelah lulus, bukan sekadar mengejar ketuntasan materi di dalam kelas.

Menurut Prof. Muhlisin, penguatan kurikulum berbasis OBE bersama pakar internasional ini merupakan fondasi krusial bagi kampus.

"Langkah ini sangat penting kita lakukan agar jalan ke depan menuju perolehan akreditasi internasional bagi FTIK UIN Gus Dur bisa lebih mudah terwujud," ungkap Prof. Muhlisin.

Kolaborasi Global dan Peluang Beasiswa Erasmus Mundus

Selain membedah kurikulum, agenda kunjungan Annette di UIN Gus Dur diisi dengan berbagai kegiatan inspiratif, mulai dari seminar internasional hingga sesi motivasi khusus untuk mahasiswa.

Di sela-sela kegiatannya, Annette juga membagikan informasi penting seputar peluang emas studi ke Eropa, khususnya melalui program Beasiswa Erasmus Mundus. 

Ia menegaskan bahwa program beasiswa bergengsi ini terbuka lebar bagi warga negara di luar Uni-Eropa, termasuk Indonesia.

"Beasiswa Erasmus Mundus untuk program bachelor (sarjana) dan pascasarjana terbuka luas bagi warga di luar Uni-Eropa, termasuk Indonesia. Batasan usia untuk beasiswa berlaku untuk kategori tertentu, tetapi untuk berkuliah jenjang S2 atau master, dan doctor tidak ada batasan usia," jelas Annette di hadapan media.

Sentuhan Unik dan Komitmen Evaluasi Berkelanjutan

Di balik agenda akademik yang padat, Prof. Muhlisin memuji karakter orang Eropa yang sangat adaptif terhadap perubahan, terbuka pada ide-ide baru, serta memiliki apresiasi tinggi terhadap budaya lokal—termasuk kuliner Nusantara.

"Kami sengaja memilihkan menu kuliner nusantara yang beragam, agar beliau bisa menceritakan kepada orang-orang di negaranya bahwa Indonesia sangat kaya akan cita rasa makanan khas," tutur Prof. Muhlisin sambil tersenyum.

Sebagai bentuk komitmen menjaga mutu, pihak SES juga melakukan auto-evaluasi melalui instrumen khusus yang diisi oleh perwakilan 9 program studi di lingkungan FTIK UIN Gus Dur. 

Kategori :