**Melihat Pemudik Mentaati Kebijakan Pemerintah Melarang Mudik
LEBARAN 2021 menjadi momen mengharukan bagi keluarga Sugiyono (35), warga Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan. Ia tidak bisa menghabiskan waktu bersama keluarga saat Lebaran karena mengikuti kebijakan pemerintah tentang larangan mudik.
MUHAMAD Faris Maulana (10) putra pertama Sugiyono tak kuasa membendung tangis saat malam takbiran. Maklum malam itu ayahnya yang bekerja di Jakarta tak mudik lantaran ada larangan mudik dari pemerintah.
Faris bersama ibunya yang bernama Endang Hastutik (33) dan dua adiknya, Nabila (6) dan Alika (3) melepas rasa kangen dengan ayahnya melalui video call.
"Faris malam takbiran nangis terus karena ayahnya ndak bisa pulang. Kami menghabiskan malam takbiran hanya dengan video call," tutur Endang, Minggu (30/5/2021) kemarin.
Sugiyono bekerja di salah satu BUMN di Jakarta. Sebelum pandemi melanda negeri, setiap Lebaran selalu pulang kampung. "Untuk Lebaran kali ini kebijakan mudik kan tegas, makanya suami memilih tidak mudik saat Lebaran kemarin," tutur dia. Rasa sedih tentu dirasakan seluruh keluarga ini. Namun mereka harus ikhlas berlebaran tanpa kepala keluarga di tengah-tengah mereka.
"Sedih sekali tapi ini demi kebaikan kita semua. Ini pertama kalinya suami tidak pulang saat Lebaran selama 10 tahun lebih merantau di Jakarta," ungkap dia.
Sugiyono sendiri baru pulang ke kampung halamannya di Pekalongan setelah larangan mudik tak diberlakukan, yakni pada Rabu (26/5/2021) saat libur Hari Raya Waisak. Pasalnya, anaknya yang bernama Faris akan sunatan. "Di tempat kerja kami aturannya ketat. Di tempat kerja, kami juga rutin mengikuti rapid test," kata dia.
Ia pun mengaku sedih tidak bisa berlebaran bersama keluarga di kampung halaman. Namun itu demi kebaikan bersama. "Kita menaati kebijakan pemerintah sebenarnya untuk kebaikan bersama agar tidak ada lonjakan Covid-19 saat gelombang mudik kemarin," kata dia.
Ia mengaku sebelum pulang kampung mengikuti rapid antigen. Saat akan berangkat lagi ke Jakarta, ia juga akan melakukan rapid antigen. "Kepastian bebas corona ini penting bukan hanya untuk diri saya sendiri tapi untuk keluarga dan teman-teman di kantor dan lingkungan kontrakan saya," ujar dia.
Jumlah pemudik di Kabupaten Pekalongan sendiri pada mudik Lebaran 2021 mencapai 16.879 orang. Dari jumlah pemudik ini sebanyak 1419 orang (8,41%) menjalani tes rapid antigen. Hasilnya tujuh pemudik dinyatakan positif Covid-19 (0,49%) dan 1412 orang dinyatakan negatif (99,51%).
"Semua pemudik yang dinyatakan positif langsung menjalani isolasi mandiri di rumahnya masing-masing selama 14 hari. Kondisinya sekarang sudah sembuh," terang Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan Setiawan Dwiantoro, kemarin.
Wawan mengatakan, bagi pemudik atau pelaku perjalanan antar daerah diimbau untuk melakukan rapid antigen. Tes bisa dilakukan di Puskesmas atau faskes lainnya yang menyediakan layanan rapid antigen. "Pandemi belum berakhir. Untuk mencegah penyebaran virus corona, pelaku perjalanan lebih baik menjalani rapid antigen. Selama perjalanan tetap patuhi protokol kesehatan dengan memakai masker, menjaga jarak, dan rajin mencuci tangan dengan sabun atau handsanitizer. Jauhi kerumunan juga," pesan dia.
Kepala Desa Tenogo, Kecamatan Paninggaran, Agus Susilo, mengatakan, pemudik yang datang di Desa Tenogo ada 187 orang.
Untuk mengantisipasi pemudik saat Lebaran kemarin, desa sudah menyiapkan ruang karantina bagi pemudik. "Alhamdulillah dari ratusan pemudik yang dilakukan tes rapid antigen semua negatif," katanya. (*)