Rumahnya Ditandai, Penerima Bansos Mengundurkan Diri

Senin 16-08-2021,14:40 WIB

PANINGGARAN - Keluarga penerima manfaat (KPM) bantuan sosial (bansos) banyak mengundurkan diri paska adanya instruksi Bupati untuk menandai rumah mereka. KPM mengundurkan diri lantaran saat ini sudah merasa mampu, sehingga bantuan yang diterimanya bisa digeser untuk warga lain yang lebih membutuhkan.

Meski demikian, di lapangan masih ada rumah yang secara fisik tampak bagus namun pemiliknya enggan untuk mengundurkan diri. Ada beberapa alasan pemilik rumah gedongan ini belum mau mengundurkan diri. Di antaranya pemilik rumah sudah janda, rumah warisan, dan berbagai alasan lainnya.

Kepala Desa Tenogo Kecamatan Paninggaran Agus Susilo, Minggu (15/8/2021), menyatakan, pihaknya hingga saat ini baru melabeli atau menandai 30 rumah penerima bansos. Ia manargetkan dalam sepekan kedepan labelisasi rumah KPM bansos akan selesai.

"Untuk sementara ini masyarakat menerima labelisasi itu. Ada beberapa orang yang merasa mampu dan masih ada yang membutuhkan di bawahnya. Akhirnya mereka dengan sadar mengundurkan diri," kata Agus.

Dari 30 rumah yang sudah ditandai, lanjut dia, ada lima KPM mengundurkan diri sebagai penerima bansos. "Ada juga dari mereka itu yang menurut pandangan saya orangnya mampu sebetulnya. Ini dilihat dari kondisi rumahnya. Namun mereka masih tetap bertahan," katanya.

Disebutkan, ada tiga kategori penerima bansos. Yakni, kategori warga tidak mampu dan membutuhkan bansos. Kedua, rumahnya bagus, namun tetap bersikeras mempertahankan bantuan. Ketiga, warga yang mampu dan akhirnya mengundurkan diri sebagai penerima bansos.

"Untuk kategori kedua alasannya bermacam-macam. Paling utama alasannya kondisi ekonomi keluarganya saat ini sulit, apalagi dengan kondisi pandemi seperti ini," ujar dia.

Ia mengatakan, kondisi rumah tidak serta merta bisa menggambarkan kondisi perekonomian si pemilik rumahnya. Ia mencontohkan, di desanya ada rumah tampak bagus, bahkan rumahnya bertingkat. Namun setelah didalami pada saat akan ditandai, pemilik rumah itu ternyata saat ini sudah menjadi janda.

"Kasus yang saya temui ada rumah yang tingkat. Di situ mendapatkan bantuan pangan. Setelah saya tanyakan, mbak jenengan kan rumahnya mampu kok masih menerima. Ternyata itu sudah janda dan saat ini memang membutuhkan bantuan karena tulang punggung keluarganya sudah tidak ada lagi," ungkap dia.

Selain itu, ada pula rumah bagus tapi itu hasil warisan orang tuanya. Sedangkan pemilik rumah sekarang kerjanya serabutan. Di desa pun banyak rumah bagus karena pemiliknya menjual kebun warisan untuk membangun rumah itu, padahal perekonomiannya pun kondisinya tak stabil.

"Di kampung kita tidak bisa serta merta melihat kaya miskinnya orang dari fisik rumahnya. Harus kita dalami untuk mengetahui kemampuan pemilik rumah itu. Kadang dulunya saat sukses bisa bangun rumah tapi kondisi sekarang terpuruk. Saya lihat akhir-akhir ini banyak orang yang semakin susah. Seperti kerja di Jakarta banyak yang pulang kampung karena tempat kerjanya tutup. Jadinya ekonominya lemah," ungkap dia.

Di sisi lain, lanjut dia, ada pula yang dulunya miskin saat ini kaya karena penghasilannya meningkat. "Ada juga yang dulunya miskin, anaknya dapat suami orang kaya akhirnya ikut kaya," katanya.

Dikatakan, sebelum pemasangan label rumah ia berusaha mendalami satu persatu kondisi terkini penerima bantuan. Untuk itu, pihaknya butuh waktu sekitar satu mingguan untuk pemasangan label tersebut. "Saya tidak serta merta tempeli rumah penerima bansos. Mungkin ada yang keberatan dan akhirnya mengundurkan diri. Kita ngobrol dulu dengan pemilik rumah penerima bantuan," ujar dia.

Ia mengatakan, saat keliling kampung untuk menandai rumah penerima bansos pihaknya juga masih mendapati warga yang betul-betul miskin tapi tidak memperoleh bantuan apapun. Untuk itu, ia berharap KPM yang mengundurkan diri itu alokasi bantuannya bisa digeser ke warga lain yang benar-benar membutuhkannya.

"Mekanismenya seperti apa nanti saya belum tahu," imbuh dia.

Tags :
Kategori :

Terkait