Delapan Sekolah Hijau Bersaing jadi yang Terbaik

Rabu 27-10-2021,12:30 WIB

BATANG - Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kabupaten Batang melalui Tim Penilai Adiwayata Kabupaten Batang tengah melaksanakan tahapan verifikasi lapangan terhadap delapan sekolah yang masuk dalam program Adiwiyata 2021. Tim juri yang terdiri dari perwakilan lintas sektoral cukup kesulitan memberikan penilaian untuk setiap sekolah, mengingat delapan sekolah ini secara umum menunjukkan performa yang menjanjikan sebagai "sekolah hijau".

Delapan sekolah tersebut, yakni SDN Tulis 01, SDN Beji 02, Kenconorejo 02, Kenconorejo 03, SDN Wonokerso 01, SDN Wonokerso 02, SDN Ujungnegoro 02, MTs Maulana Maghribi Ujungnegoro. Kondisi lingkungan delapan sekolah ini secara umum hijau dan rindang, ragam tanaman dari peneduh, bunga, tanaman sayur, buah sampai tanaman untuk apotek hidup.

"Tidak cukup asal hijau, tetapi juga fungsi dan kemanfaatannya diperhatikan, ekosistemnya secara keseluruhan, bagaimana saluran air, biopori, pengelolaan sampah, apotek hidup, dan lainnya. Prinsipnya tidak sekadar fisik, tetapi Adiwiyata ini adalah soal bagaimana berbudaya lingkungan yang bersih dan sehat," kata Suyaeni, Kabid PPKLH yang juga Ketua Tim Penilai, mewakili Kepala DLH Batang, A Handy Hakim.

Mengingat kedelapan sekolah menunjukkan kualitas lingkungan yang sama-sama bagus, maka hal-hal detail pun tak luput dari pengamatan tim penilai. Kasi Penataan LH Bidang PPKLH, Ibnu Djoko Putranto misalnya, beberapa kali menyoroti masih adanya aktivitas bakar sampah yang dilakukan pihak sekolah, hingga mengingatkan kondisi lubang biopori yang perlu dibenahi menjelelang musim hujan.

Sementara Pembina Forum Bank Sampah, Fasoli, banyak mengupas tentang pengelolaan bank sampah agar bisa memainkan perannya yang optimal dalam pengelolaan sampah domestik sekolah. "Namanya saja bank, maka administrasinya, alur sampah, dan outputnya juga harus diperhatikan, agar manfaatnya juga bisa optimal," ujarnya.

Sementara Uripah dari Kantor Kemenag Batang beserta Eko Sudiyanto dari Disdikbud banyak memberikan review soal pentingnya membentuk karakter berbudaya lingkungan yang dibentuk melalui pembiasaan siswa. "Kalau soal fisik mungkin bisa dikerjakan sekolah atau memanggil orang luar, tetapi soal budaya dan karakter ini butuh proses. Padahal inilah ruh dari Adiwiyata, yakni budaya, karakter, sikap mental, sehingga ini harus bisa dimasukkan dalam kurikulum. Alhamdulillah, secara umum sekolah sudah melakukan, tinggal dioptimalkan," pesan Eko.

Setelah melakukan penilaian portofolio dan verifikasi lapangan, tim penilai nantinya akan menggelar pleno untuk menentukan Sekolah Adiwiyata Kabupaten Batang yang akan ditetapkan dengan SK Bupati. (sef)

Tags :
Kategori :

Terkait