**Banyak Ditemukan Kasus Baru TBC
KAJEN - Di tengah pandemi Covid-19, kasus tuberkulosis (TBC) seolah terlupakan. Padahal penyakit yang menyerang pernafasan ini pun mematikan jika tak ditangani dengan baik.
Seiring kian landainya kasus Covid-19, Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan mulai menggiatkan lagi tingkat penemuan kasus TBC di masyarakat. Hasilnya, banyak ditemukan kasus baru TBC. Artinya, faktor risiko penyakit ini masih cukup tinggi di tengah-tengah masyarakat. Penyakit yang dulu dikenal penyakit orang miskin ini sekarang tak pandang bulu. Kaya-miskin rentan tertular. Bayi hingga orang dewasa pun bisa terkena penyakit ini.
Subkoordinator P2PTM Dan PM Dinkes, Sudaryanto, kemarin, menyampaikan, penyakit TBC di Kabupaten Pekalongan masih terjadi penularan. Buktinya, masih ditemukannya pasien-pasien baru dari hasil kegiatan pencarian suspek di lapangan.
"Situasi Covid kemarin itu pun memang secara umum, dalam arti kegiatan masyarakat dibatasi, maka kegiatan kader dalam menemukan suspek juga terpengaruh," kata dia.
Namun secara umum, kata dia, masih terjadi peningkatan temuan kasus barunya. Dengan adanya Covid-19, masyarakat cenderung ketakutan untuk datangi faskes karena trauma dicovidkan. Orang yang batuk memilih lebih baik menyembunyikan keadaanya itu tanpa upaya mencari pengobatan.
"Dengan Ikhtiar bersama dengan melibatkan semua komponen masyarakat kita mulai bergerak lagi memaksimalkan jejaring yang ada. Kader kesehatan kita dorong untuk mulai mencari suspek. Keliling ke masyarakat mencari orang yang lagi batuk. Untuk diambil dahak untuk diperiksa. Penyuluhan kepada masyarakat juga sudah mulai digiatkan lagi," tandasnya.
Di tahun 2021, kata dia, kasus yang ditemukan 63 persen dari target, atau meningkat dibanding 2020 dimana penemuan kasusnya ada 53 persen. Di tahun 2021, ada temuan 1.290 kasus TBC dari target 2.053 kasus.
"Peningkatan ini kalau dilihat dari sisi temuan kasus memang jadi hal yang wajib. Namun dilihat dari paparan atau faktor risiko ini juga menjadi tantangan tersendiri. Karena tiap tahun masih ditemukan kasus baru," ujar dia.
Logikanya, lanjut dia, kegiatan penemuan kasus TBC terus dilakukan. Kasus pun sudah ditemukan, diobati, dan sembuh. Maka harapannya kian sedikit kasus yang ditemukan. Namun ternyata kasus baru masih terus ditemukan. Berarti di tengah situasi seperti ini faktor risiko di lapangan itu masih terbuka lebar atau masih banyak.
Faktor itu di antaranya disebabkan adanya perilaku dari penderita TBC itu sendiri. "Jika dia menyembunyikan penyakitnya, maka dia bisa menjadi sumber penularan bagi keluarga dan tetangganya," tandasnya.
Penyakit TBC saat ini tidak pandang bulu. Kaya miskin bisa tertular. Balita pun sudah ada yang menderita TBC. "Memang faktor risikonya sekarang sudah ada di sekitar kita," ujar Sudaryanto.
Disebutkan, penyakit TBC apabila tidak tertangani dengan baik berpotensi menjadi sumber penularan. Jika penderita tidak berobat secara benar maka akan timbulkan resisten obat.
"Jika sudah resisten, pengobatannya akan lebih susah dan lama. Penderita TB resisten obat, akan menularkan resisten juga. Pasien tidak tertangani dengan baik, tidak mau berobat, atau bahkan menyembunyikan penyakit bisa meninggal juga. Waspadai juga silent killer seperti ini," tandasnya. (had)