Sudah Ada Sejak Masa Hindu-Budha, Selama Pandemi Digelar Terbatas

Senin 13-12-2021,11:30 WIB

**Menilik Ritual Tradisi Nyandran Gunung di Desa Silurah, Wonotunggal

"Ini sudah menjadi tradisi turun temurun dari leluhur yang dilakukan masyarakat setiap setahun sekali. Di mana sebagai wujud syukur masyarakat kepada alam dan juga Sang Pencipta. Selain uri-uri budaya, diharapkan bisa menjauhkan desa dari balak dan dilimpahkan rahmatnya," tutur Kepala Desa Silurah, Suroto, saat ditemui pada Jumat (10/12/2021).

Kegiatan inti Nyadran menjadi fokus utama dalam prosesi ritual tahunan kali ini. Mulai dari ider-ider di malam sebelum prosesi, pemotongan kambing kendit, prosesi doa, hingga pembagian selamatan untuk warga dan juga diakhiri hiburan Gending Jawa dan Ronggeng.

"Kalau ider-ider itu dilakukan pada malam hari, kemudian pagi ini tadi bersama-sama ke Gunung Rogo Kusuma untuk melakukan penyembelihan kambing kendit, dimasak dan disajikan diiringi gending jawa lalu makan bersama masyarakat," jelas Suroto.

Di masa pandemi Covid-19 saat ini, tradisi Nyadran Gunung Silurah memang dibuat lebih sederhana dan tetap sesuai protokol kesehatan (prokes). Pun kegiatan sengaja tidak dipublikasikan lebih luas demi meminimalisir kerumunan.

"Kalau biasanya kami infokan ke masyarakat luas agar mereka ikut berpartisipasi tapi karena pandemi hanya masyarakat Desa Silurah saja, ini juga hanya pada ritual pokoknya saja," ujarnya.

Sementara itu, salah satu pegiat budaya dari Komunitas Batang Heritage, MJA Nashir mengatakan, tradisi Nyadran Gunung Silurah ini memang harus terus dilestarikan sebagai kultur budaya yang dipegang teguh masyarakat Desa Silurah.

"Tradisi ini sudah dilakukan leluhur sejak Hindu, Budha kemudian Islam bisa dilihat dari peninggalan-peninggalan yang ada di Desa Silurah, salah satunya Punden Perundak yang menjadi tembat ibadah lokal saat itu," terangnya.

Desa Silurah memiliki beragam artefak sejarah dengan peninggalan arkeologis seperti prasasti, arca, dan struktur bangunan. "Beberapa peninggalan memang belum dieskavasi dan sebenarnya luas sekali. Ini membuktikan ketika agama hindu budha berusaha menyesuaikan kepercayaan masyarakat setempat. Waktu diteliti masih murni, artinya ketika ada agama yang baru masuk menghormati yang masih ada dan ini bentuk spiritual kaitannya dengan gunung," pungkasnya. (nov)

Tags :
Kategori :

Terkait