"Untuk masuk ke pasar induk Jakarta, pasar Ajibarang, dan pasar besar lainnya belum mampu karena stoknya kurang. Di Petung saya ngambil tujuh hari sekali paling dapat enam sampai delapan kuintal. Itu sudah maksimal. Kalau mau masuk ke pasar induk pakainya tonase," terang dia.
Jika musim kemarau, kata dia, per hari tiga sampai lima kuintal kemungkinan masih mampu. Namun, di musim hujan produktivitas cabai turun.
"Di musim hujan, petani banyak yang gagal. Banyak juga yang tidak berani nanam," kata dia.
Disinggung serangan virus gemini, Munir mengatakan, serangan virus gemini terjadi hampir setiap tahun. "Virus gemini setiap tahun pasti ada. Harga mulai mahal biasanya memasuki perubahan cuaca yang paling esktrem. Musim peralihan sudah pasti gemininya keluar," katanya.
Diakuinya, petani cabai menghadapi harga yang tidak stabil. Ia mengaku pernah mengalami harga cabai anjlok hingga Rp 5 ribu/kg.
"Saya juga pernah mengalami punya tanaman 1 hektare lebih, harga cabai hanya Rp 5 ribu. Ya Alhamdulilah mas," ungkap dia.
Dikatakan, pada awal corona muncul atau sejak Februari hingga Agustus 2020 harga cabai terjun bebas. Harga cabai mulai agak naik pada bulan September 2020.
"Mulai September, Oktober, November, harga mulai naik. Harga di atas Rp 30 ribu sejak Desember," kata dia.
Ia memperkirakan harga cabai akan tetap tinggi hingga agak lama. Pasalnya, selain faktor cuaca, sejumlah daerah pemasok cabai banyak terkena bencana alam.
"Prediksi saya karena daerah-daerah yang bisa ditanami cabai di bawah lereng gunung merapi atau lainnya ndak bisa nanam ya otomatis masih lama. Daerah pegunungan yang erupsi itu ndak bisa nanam. Harga cabai tinggi akan bertahan lama. Tapi ya itu perjuangannya harus dengan modal lebih.
Musim penghujan seperti ini jika ingin panen ya biaya perpohon bisa Rp 5 ribu hingga Rp 6 ribu tinggal dikalikan saja nanam berapa pohon," katanya. (had)