KARANGANYAR - Peternak kecil bebek petelur gulung tikar. Biaya pakan kian mahal, namun produktivitas telur turun drastis. Akibatnya peternak kecil terus merugi.
Abas (55), warga Desa Kayugeritan, Kecamatan Karanganyar, kemarin, mengatakan, paska berhenti merantau ke Jakarta karena sakit, ia mencoba beternak bebek petelur. Apalagi di tengah pandemi, akan sulit untuk kembali lagi bekerja sebagai pedagang air bersih di Jakarta Utara.
"Saya dibelikan bebek oleh keluarga. Belum banyak. Hanya 50-an ekor," tutur dia.
Puluhan bebek itu pun dipelihara dengan pakan bekatul, loyang (nasi aking) ditambah konsentrat. "Di awal-awal lumayan hampir separo lebih bebek tiap harinya bertelur," kata dia.
Namun memasuki musim hujan, biaya pakan bekatul dan nasi aking naik. Bahkan kedua sumber pakan ini sulit dicari. Harga bekatul saat ini Rp 3.500 hingga Rp 4.000 perkilo. Untuk nasi aking Rp 4.500 perkilo.
"Biaya pakannya naik. Namun bebek tak lagi bertelur selama musim hujan ini. Kita tak mampu lagi beli pakannya karena ndak ada telur yang bisa dijual," ungkap dia.
Oleh karena itu, ia memilih menjual semua bebeknya daripada terus buntung. Bebek dijual murah Rp 45 ribu perekor. Padahal, harga normal bisa Rp 70 ribu perekor.
"Di Kayugeritan ini ada beberapa peternak bebek skala kecil. Rata-rata kepemilikannya 50 ekor hingga 200 ekor. Semuanya menghadapi kendala pakan sulit dan mahal. Bebeknya ndak bertelur," kata dia. (had)