Sementara itu, Kepala Stasiun Geofisika Banjarnegara Heru Susanto Wibowo mengatakan, untuk patahan di Jawa Tengah memang ada beberapa yang sudah diidentifikasi, yakni di 13 titik dan ada juga yang belum identifikasi.
“Biasanya yang belum identifikasi merupakan patahan lokal yang mempunyai ciri permukaan naik yang cenderung berbukit. Patahan Weleri sendiri memang belum di identifikasi, karena kami harus mengidentifikasi dengan cara ada aktivitas gempa dahulu, sedangkan patahan dalam tiga tahun terakhir ini tidak pernah terjadi,” terangnya.
Disebutkan dia, untuk mengantisipasi terjadinya gempa, pihaknya sudah memasang peralatan atau jaringan pemantauan gempa bumi di lokasi Kecamatan Gringsing dan Paninggaran Pekalongan. Tujuannya untuk pemantauan sesar-sesar yang ada di darat wilayah Jawa Tengah.
“Potensi terjadinya gempa di Patahan Weleri tidak terlalu besar atau kecil, karena tipenya patahan naik, bukan sejajar. Jika patahan bergeser, tetap akan menimbulkan gempa bumi. Patahan Weleri itu merupakan sumber gempa yang ada di darat dengan kedalaman dangkal 0 sampai 30 kilometer,” katanya.
Ia juga mengimbau, agar masyarakat tidak perlu panik berlebihan, karena memang bertempat tinggal di daerah-daerah bahaya yang ada patahan buminya.
"Tinggal bagaimana masyarakat dibekali kesiapsiagaan, dan apa saja yang harus dipersiapkan sewaktu-waktu terjadi gempa bumi. Dan kejadian gempa itu sendiri tidak bisa kami prediksi kapan akan terjadi, tapi dengan kita siap bisa timbul rasa tidak takut lagi,” ujar dia. (fel)