BATANG - Teh Lokal Batang kini mulai menunjukkan taringnya hingga dunia internasional. Hal ini salah satunya dibuktikan melalui racikan teh Ratih Anggun Perdhani, peracik teh milanial asli Batang. Ratih berhasil menciptakan tujuh varian teh dari teh lokal Batang.
Ketujuh varian teh yang berhasil diraciknya dinamai menggunakan bahasa sansekerta, yakni Swaran Blue, Santika, Dahayu, Nalawatea, Ramu Cotecaberry, Manala Chai, dan Darana Cocopandan. Teh racikan Ratih pun sudah wara-wiri ke beberapa negara, mulai dari Italia, Inggris, Swis, Australia, dan Norwegia.
Tak disangka, ketertarikan wanita berusia 34 tahun itu justru datang setelah Ratih sakit dan dilarang mengkonsumsi kopi. Mulai saat itu, orang tuanya mulai mengenalkan produk teh-teh lokal dari Kabupaten Batang. Ia pun mulai tertarik dengan teh-teh dari daerah Pagilaran.
"Tahun 2017 teh lokal Batang dari Pagilaran saya bawa ke Kota Semarang untuk dikenalkan dalam acara Car Free Day, dari situ mulai serius menggarap bisnis tersebut," tutur Ratih saat diwawancarai beberapa waktu lalu.
Setelah melewati serangkaian perizinan, 2018 lalu Ratih berhasil melakukan pengiriman produk teh racikannya ke Inggris. Teh-teh yang dipasarkannya masih berupa teh original dan belum ada pencampuran.
"Setelah itu saya baru tahu kalau teh itu hampir sama dengan kopi, cara menyeduh, teste rasanya dan lain sebagainya, akhirnya cari tahu dan belajar di Indonesian Tea Institue," ungkapnya.
Selanjutnya, tahun 2020 Ratih mengikuti kompetisi artisan tea tingkat nasional. Ia pun berhasil mengantongi juara dua sebagai local brand tea category melalui racikan teh bernama Nalawatea.
Sejak itu mulai banyak pesanan untuk membuat teh racikan, namun ia belum percaya diri untuk membuat racikan teh bercampur rempah. Lambat laun ia pun semakin percaya diri menciptakan racikan-racikan teh baru.
"Bahan baku teh ini dari lokal Kabupaten Batang, beberapa supplier teh dari luar daerah juga menghubungi saya untuk menggunakan bahan baku dari mereka. Cuma saya masih idealis untuk mengangkat produk teh lokal sini walaupun secara harga lebih murah mereka," jelasnya.
Seluruh teh buatannya diberi merk Nala Indonesian Tea, dan beberapa teh yang paling banyak dicari orang adalah varian Dahayu, Santika, dan Swaran Blue.
Teh racikannya punya beberapa khasiat tersendiri. Seperti Nalawatea dan Santika yang dicari karena khasiat untuk diet hingga relaxing. Kemudian Swaran Blue punya khasiat detox, relaxing, anti angine, hingga anti oksidan.
Khasiat ini didapatkan dari berbagai rempah yang dicampurkan. Contohnya, dalam racikan Nalawatea dibuat dari teh putih, bunga telang, berry, rose, dan lainnya. "Ini rasanya lebih fresh ringan, tidak sepet berasa rempah tapi menyatu tidak satu-satu, di badan anget tapi seger," ujarnya.
Saat ini ia bisa memproduksi hingga 250 bungkus teh racikan, satu kemasan berukuran kecil memiliki berat 10 sampai 20 gram. Sementara kemasan besar beratnya 59 gram dan 100 gram, harganya juga bervariasi, mulai Rp 25 ribu hingga ratusan ribu rupiah.
"Melalui berbagai racikan teh ini, saya ingin membuat teh lokal naik kelas, karena lebih menarik secara tampilan, rasa, dan kemasan," pungkasnya.(nov)