Kolaps, 50 Koperasi Siap Dibubarkan

Jumat 11-11-2022,12:00 WIB

*Sulit Bertahan Pasca Pandemi

BATANG - Pandemi Covid-19 yang berlangsung selmaa dua tahun ke belakang ternyata menjadi proses seleksi alam bagi keberlangsungan koperasi di Kabupaten Batang. Beberapa koperasi dapat bertahan dan mulai bertumbuh kembali pasca pandemi, namun sebagian yang lain justru menunjukkan gejala kolaps, sehingga bakal segera dibubarkan.

Dinas Perindustrian, Perdagangan, Koperasi dan UKM (Disperindagkop dan UKM) Kabupaten Batang menyebut beberapa koperasi yang disebut terakhir itu masuk dalam kategori tidak sehat dan bermasalah.

Kepala Bidang Koperasi dan UKM pada Disperindagkop dan UKM Kabupaten Batang, Budi Santoso mengatakan, setidaknya ada 50 lembaga koperasi di wilayahnya yang sudah dinyatakan kolaps pasca pandemi. Karena itu, pihaknya berencana membubarkan puluhan koperasi tersebut.

"Prosentase yang kolaps kurang lebih sekitar 20 persen dari total sekitar 238 koperasi. Ada sekitar 50 yang siap kita bubarkan. Dan ada beberapa koperasi yang masih kita berikan pembinaan," ujarnya saat diwawancarai pada Kamis (10/11/2022).

Menurut Budi, kolapsnya beberapa koperasi karena belum menerapkan undang-undang yang berlaku. Selain itu menurutnya pengelolaan koperasi belum menjalankan prinsip Bener, Kober, Pinter, dan Amanah.

"Jadi dalam menjalankan usaha simpan pinjam, harus orangnya jujur dan bener. Dan punya waktu untuk mengelola koperasi. Berkaitan dengan koperasi yang ada di Batang kami harap mereka bisa menerapkan hal itu. Dan bisa berkembang dan memberdayakan masyarakat sekitar," pungkasnya.

TRANSFORMASI DIGITAL

Sementara itu, Analis Koperasi Bidang Kelembagaan Organisasi Dinkop dan UMKM Provinsi Jawa Tengah, Utik Ekowati berharap, koperasi bisa tetap bertahan dan berkembang di masa depan. Sehingga harapannya setiap koperasi mampu berinovasi, salah satunya dengan melakukan proses transformasi digital untuk menjawab tantangan zaman.

"Apalagi dengan maraknya pinjol (pinjaman online, red) dan kemudahan transaksi digital. Koperasi juga harus tanggap teknologi dengan menghadirkan platform digital. Sehingga semakin dapat melayani masyarakat," harapnya.

Dikonfirmasi terpisah, anggota Komisi C DPRD Batang, H Muafie mengatakan, tantangan kelembagaan koperasi ke depan semakin berat, karena proses perubahan teknologi yang berlangsung pesat dan masif. Hampir seluruh bisnis keuangan dan perbankan dewasa ini juga telah bertansformasi digital sebagai upaya adaptif merespon perubahan zaman sekaligus meningkatkan pelayanan untuk masyarakat.

"Imajinasi bisnis harus menjangkau ke depan, bahwa karena revolusi teknologi ini, bukan mustahil ke depan bank dan perusahaan finansial tak lagi membutuhkan banyak karyawan, bahkan teller dan customor service akan tergantikan teknologi. Bikin akun rekening bank saja tak perlu pergi ke bank, bisa dilakukan secara virtual. Ini lompatan perubahan yang luar biasa, dan lembaga koperasi semestinya membayangkan ke sana agar bisa bertahan dan berkembang," jelas politisi Partai Nasdem ini.

Namun demikian, Muafie juga meminta pemerintah daerah bersungguh-sungguh dalam melakukan pembinaan, tidak hanya mengedepankan pendekatan aturan dan hukum. "Ya sebisa mungkin bersi kesempatan yang panjang, tidak melulu main bubarkan. Sebab koperasi ini terkait erat dengan faslafah ekonomi Pancasila, menjadi soko guru perekonomian Indonesia. Jadi mereka perlu dibina dan terus didampingi guna melakukan proses adaptasi terhadap tuntutan zaman," ujarnya. (nov/sef)

Tags :
Kategori :

Terkait