*Pemkab Butuh Dukungan Pemprov dan Pusat
BATANG - Hampir sepekan pasca bencana longsor yang terjadi di Dukuh Rejosari, Desa Pranten, Kecamatan Bawang, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Batang menyatakan belum bisa menangani dampaknya. Pasalnya, meski tak ada korban jiwa, namun runtuhan material longsornya mencapai ribuan meter kubik, sehingga tidak bisa ditangani secara cepat.
Longsor yang terjadi pada Jumat (31/12/2021) malam itu mengakibatkan akses ekonomi dan pendidikan masyarakat sekitar masih terganggu. Mereka harus melewati jalan setapak ataupun memutar jalan yang begitu jauh.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Batang, Ulul Azmi mengatakan, jika Pemkab Batang tidak bisa mengatasinya sendiri.
"Ya, Pemkab Batang tidak mampu sendiri. Harus ada dukungan dari provinsi maupun pusat. Karena ini juga berkaitan dengan pendanaan," ujarnya, Kamis (6/1/2021).
Hingga saat ini, material longsor masih menutupi akses jalan desa. Belum ada langkah pembersihan material, baik dari masyarakat, maupun pemerintah.
"Longsor begitu besar, tidak bisa serta merta langsung dibersihkan. Di mana longsor kemarin saja volumenya mencapai ribuan meter kibik, yang melibas 2 hektar tanah Perhutani dan 7 hektar tanah masyarakat," jelasnya.
Adapun, kata Ulul, saat ini pihaknya hanya bisa menyiapkan beberapa langkah, seperti diantaranya menunggu kajian dari Dinas Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Provinsi Jawa Tengah.
Kemudian, memberikan peringatan sejak dini pada sejumlah desa yang berada di dekat daerah alur sungai (das) Kali Belo, apabila terjadi banjir bandang. Serta, secepatnya mengupayakan konservasi lahan.
"Ya saya himbau masyarakat yang berada di Desa Deles, Gunungsari, Bawang, dan Candigugur untuk waspada dan mencari lokasi yang aman. Sebab potensi banjir bandang juga perlu diwaspadai," katanya.
Menurut Ulul, tanah itu adalah jenis tanah kapur, sehingga apabila terjadi hujan lebat, maka patut diwaspadai. Adapun peristiwa longsor pertama, ralat Ulul, terjadi pada 29 April 2020 lalu.
"Ya selain karena alih fungsi lahan, longsor ini juga ditengarai adanya kebocoran pipa air minum dari Banjarnegara, tepatnya di Dukuh Pawuhan. Jadi air netes bertahun tahun, sehingga mengakibatkan tanah tergerus, terjadi retakan, dan akhirnya longsor," terangnya.
Dikatakan dia, potensi bencana tanah longsor susulan di daerah itu masih ada, sebab baru sebagian mahkota longsor yang runtuh, tersisa sebagian mahkota lagi yang tinggal menunggu waktunya. "Ya masih ada mahkota yang belum longsor. Maka saya imbau warga menjauh dari wilayah sekitar situ," jelasnya.
Adapun ditambahkan dia, selain peristiwa tanah longsor yang terjadi di Dukuh Rejosari, Desa Pranten, BPBD Batang juga mengimbau masyarakat mewaspadai potensi yang sama di Gunung Alang, masuk wilayah Dukuh Gunung Alang, Desa Gerlang. "Ya, di situ juga terdapat potensi tanah longsor, meskipun sebelumnya belum pernah terjadi adanya retakan maupun longsor," tandasnya. (fel)