*Pemda Kerjasama dengan Stikes Yogyakarta
KAJEN - Di tengah pandemi Covid-19, kasus stunting di Kabupaten Pekalongan justru turun. Pada tahun 2020 ada kasus stunting sebanyak 1.631 (15,81%), sedangkan di tahun 2019 ada 1.530 (21,43%).
Meski demikian, potensi munculnya stunting baru perlu diantisipasi. Pasalnya, ibu hamil dengan kondisi anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) saat ini masih cukup tinggi. Jika tidak ditangani dengan baik, bumil anemia dan KEK ini berpotensi melahirkan bayi stunting.
Berdasarkan data yang diperoleh Radar, pada tahun 2019 ada 17752 bumil, dimana ada 2504 bumil anemia (14,81%) dan ada 2804 bumil KEK (15,89%). Kasus stunting ada 1530 (21,43%). Pada tahun 2020 terdapat 17387 bumil. Di antara bumil ini ada 30001 (17,26%) bumil anemia dan 2929 (16,85%) bumil KEK. Kasus stunting tahun 2020 ada 1631 (15,81%). Sementara itu, hingga Juni 2021 ada 18187 ibu hamil. Di antara mereka ada 2916 (16,03%) bumil anemia dan 920 (5,05%) bumil KEK. Kasus stunting hingga Juni 2021 ada 1628 (13,48%).
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan Setiawan Dwiantoro, Rabu (22/9/2021), mengatakan, untuk stunting di Kabupaten Pekalongan ada lokus stunting dan akan dikerjakan kedepan. "Kita ada MoU dengan Stikes Yogyakarta. Ini program nasional. Kita salah satu kabupaten yang ditunjuk untuk pelaksanaan penanganan stunting," terang Wawan, dihubungi usai melaksanakan MoU itu, kemarin siang.
Ada beberapa kegiatan yang akan dilaksanakan untuk penanganan stunting dari kerjasama itu. Namun secara teknis akan diperdalam kembali.
"Ini kan MoU antara pemerintah daerah dengan pihak kelembagaan yang lain. Setelah itu secara teknis akan kita lakukan penanganan," kata dia.
Disinggung kasus stunting, ia mengatakan, kasus stunting di Kabupaten Pekalongan justru mengalami penurunan. "Di tahun 2021 ada penurunan dibanding tahun kemarin. Ini perlu dilakukan kajian. Melalui kelembagaan teknis ini lah nanti kita kaji termasuk di dalam penanganan stunting yang tepat. Untuk 1000 hari kehamilan, kehidupan pertama, ini tetap kita dorong untuk tetap melakukan asupan gizi berimbang, mulai dari ibu hamil, melahirkan, sampai anak usia 2 tahun tetap kita pantau terus," ujar dia.
Disinggung potensi stunting dari ibu hamil KEK, Wawan menyatakan, ibu hamil KEK harus ada penanganan khusus agar tidak ada kasus stunting. "Di dalamnya adalah itu. Kita jangan sampai ibu hamil KEK ini tidak ada penanganan yang spesifik. Sehingga kita lakukan pendataan untuk itu. Termasuk vaksinasi ibu hamil, salah satunya adalah upaya-upaya yang kita lakukan," kata dia.
Sebelumnya diberitakan, ibu hamil yang mengalami anemia dan kekurangan energi kronis (KEK) berisiko melahirkan dengan BBLR (berat badan bayi lahir rendah), gizi kurang, gizi buruk, dan stunting.
Stunting harus dicegah sedini mungkin karena akibatnya yang sangat fatal. Selain berpotensi mengalami gangguan fungsi kognitif dan keterlambatan motorik, anak-anak stunting juga berisiko mengalami permasalahan kesehatan di masa dewasa. Dan bagi perempuan maka ia akan melahirkan bayi yang lebih kecil dan akan berisiko melambungkan lingkaran setan kemiskinan dalam keluarga.
Persoalan stunting merupakan masalah multidimensional. Untuk itu, masalah ini harus diselesaikan dengan melibatkan banyak sektor supaya bisa cepat diselesaikan. (had)