12 Rumah Warga di 'Pulau' Simonet Dikosongkan

Senin 01-02-2021,12:00 WIB

"Dari empat rumah yang berada di deretan rumah saya, tiga rumah masih ditinggali dengan kondisi rusak, dan satu rumah sudah tidak ditinggalli oleh penghuninya," terang dia.

Daesan mengaku tetap bertahan di rumah karena tidak punya rumah lainnya untuk dijadikan tempat tinggal.

BANGUN TANGGUL DARURAT

Sementara itu, Sunaryo mengatakan, tanggul darurat yang dibuat warga semuanya swadaya.

"Tanggul yang dibuat ini tujuannya untuk menghalangi gelombang air laut dan pasir masuk ke rumah" kata Sunaryo.

Menurutnya, apabila tidak ditanggulangi seperti itu air laut dan pasir pasti masuk rumah.

"Setidaknya bisa mengurangi terjangan gelombang pasang dengan adanya tanggul darurat ini," ujarnya.

Ia menceritakan, dalam enam hari ini gelombang air laut sangat tinggi.

Gelombang paling tinggi itu hari Selasa (26/1/2021) dan Jumat (29/1/2021).

"Kalau Selasa itu gelombang mulai tinggi pada pukul 01.00 WIB dan untuk Jumat jam 19.30 WIB malam. Tingginya ombak sekitar 3 meter pas air laut pasang," tandasnya.

Sunaryo mengungkapkan, tanggul darurat menggunakan karung besar baru bisa dibuat sekitar 8 meter.

"Rencananya itu 30 meter akan dibuat tanggul darurat menggunakan karung jumbo bantuan dari kecamatan, tapi karung yang bisa digunakan untuk buat tanggul hanya cukup untuk 8 meter. Warga juga swadaya membuat akses jalan yang terendam air," ungkapnya.

Melihat kondisi kampungnya yang seperti itu, dirinya hanya bisa pasrah dan menunggu relokasi yang dijanjikan oleh pemerintah daerah.

"Saya dan warga yang lain hanya pasrah kalau air laut pasang," ungkap dia.

Ia berharap, relokasi yang dijanjikan pemerintah bisa segera terlaksana. (had)

Tags :
Kategori :

Terkait