*14 Hektare Mengalami Puso
Kabid PTPH Dinperpa Kota Pekalongan
KOTA - Musim kemarau panjang menyebabkan ratusan hektare lahan pertanian di Kota Pekalongan mengalami kekeringan dari tingkat ringan, sedang, berat, sampai puso.
Kepala Bidang Pertanian, Tanaman Pangan dan Hortikultura (PTPH) pada Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan, Darsari Resti Artanti mengungkapkan, hingga 31 Agustus 2019, dari total luas tanam lahan pertanian terutama padi sawah seluas 564 hektare (Ha), yang terdampak kekeringan mencapai 160 Ha.
"Dari 160 Ha yang terdampak kekeringan ini, perinciannya yang ringan seluas 117 Ha, sedang seluas 16 Ha, berat seluas 13 Ha, dan puso seluas 14 Ha. Jadi, secara persentase ada sekitar 28 persen lahan terdampak kekeringan dari total luas lahan 560 Ha," ungkap Artanti, Kamis (19/9).
Dia merinci, lahan pertanian yang kekeringan ini tersebar di sejumlah wilayah di empat kecamatan. Di Kecamatan Pekalongan Barat, lahan sawah yang kekeringan seluas 6 Ha, dengan perincian kekeringan tingkat ringan 4 Ha dan sedang 2 Ha.
Lalu di Pekalongan Utara, lahan pertanian seluas 9 Ha terdampak kekeringan, dengan rincian tingkat ringan mencapai 6 Ha dan puso seluas 3 Ha.
Untuk Pekalongan Timur, kekeringan melanda lahan pertanian di empat wilayah. Perinciannya, di Kelurahan Gamer seluas 16 Ha (kekeringan tingkat ringan), di Kelurahan Setono seluas 17 Ha (kekeringan ringan), di Kelurahan Klego/Poncol seluas 6 Ha (ringan 3 Ha dan puso 3 Ha), serta di Kelurahan Kali Baros seluas 30 Ha dengan rincian ringan 17 Ha, sedang 6 Ha, berat 5 Ha, dan puso 2 Ha.
Berikutnya di Kecamatan Pekalongan Selatan, kekeringan melanda lahan pertanian di 5 kelurahan. Perinciannya, 23 Ha di Kelurahan Sokoduwet dengan dampak kekeringan ringan, 45 Ha di Kuripan Yosorejo dengan rincian 23 Ha kekeringan ringan, 8 Ha sedang, 8 Ha berat, 6 Ha mengalami puso.
*) Diasuransikan
Artanti menambahkan, dari 14 Ha sawah yang mengalami puso, sebanyak 9 Ha diantaranya sudah diasuransikan. "Dari yang puso ini alhamdulillah sebagian di awal pertanamannya sudah diikutkan Asuransi Usaha Tani Padi (AUTP) sehingga kita langsung mendampingi petani yang bersangkutan untuk mengajukan klaim asuransinya. Yang sudah ikut asuransi ini di Krapyak 3 Ha dan di Kuripan Yosorejo 6 Ha," ujarnya.
Artanti menambahkan, berdasar info yang didapat dari BMKG, diperkirakan musim kemarau ini baru akan berakhir pada kisaran bulan Oktober hingga November mendatang. "Perkiraannya demikian. Namun mudah-mudahan awal musim hujan bisa datang lebih cepat," tuturnya.
Menyikapi adanya kekeringan akibat kemarau ini, imbuh Artanti, Pemkot Pekalongan melalui Dinperpa hanya bisa melakukan sejumlah upaya untuk menekan dampaknya. Apalagi, Kota Pekalongan tidak punya sumber air sendiri untuk mengaliri lahan sawah yang ada. Sumber air dimaksud, berasal dari wilayah Kabupaten Pekalongan maupun Batang.
"Upaya jangka pendek, selama masih ada air, kita di awal-awal kemarau bersama petani dan PSDA mengawal pergiliran air pada daerah irigasi sesuai kesepakatan. Kita juga memberikan pinjaman pompa air kepada kelompok tani yang membutuhkan. Pompa digunakan untuk menyedot air dari irigasi yang ada. Namun akhir-akhir ini memang sudah tidak ada lagi air yang bisa disedot," ungkapnya.
Maka upaya lain yang dilakukan adalah menginvengarisir sumber air yang diprediksi masih bisa mengairi. "Kita juga lakukan inventarisasi dampak kerusakan dan melaporkannya secara berjenjang," tuturnya.