"Jadi, ini hasilnya sudah bagus sekali, melihat kondisi yang baru pertama kali ditanami setelah lahan ini digenangi air rob selama sekitar 10 tahun. Kendala sebenarnya tingkat salinitas tinggi yang menjadi permasalahan utama di wilayah-wilayah pesisir pantai. Sehingga, diharapkan varietas unggul BioSalin 1 dan 2 bisa tahan dengan kondisi semacam itu. Sementara, di Banten juga hampir sama hasilnya sekitar 6-7 ton dengan masa tanam 3-4 kali," ujarnya.
BACA JUGA:Wamentan akan Undang Petani Milenial Viral Ciptakan Teknologi Siram Sawah Pakai AI
BACA JUGA:Pakai Bantuan Drone, Kodim dan Pemkot Pekalongan Buka Lahan Tidur di Degayu Pekalongan Utara
Arif menambahkan, dengan memasuki musim penghujan seperti saat ini, maka salinitas akan cenderung berkurang. Dengan semakin banyak air hujan yang notabene air tawar dan sumber airnya untuk penanaman, maka diharapkan produktivitas hasil panen padi ini akan semakin tinggi pula.
"Penanaman padi d isini waktu itu pada saat musim kemarau dan hasilnya juga sudah sangat bagus," bebernya.
Asisten Perekonomian dan Pembangunan Kota Pekalongan, Joko Purnomo, mengaku bersyukur dengan adanya proyek nasional penanggulangan banjir dan rob di Kota Pekalongan.
Banyak wilayah yang awalnya terdampak rob, kini secara bertahap sudah bisa kering, di antaranya lahan sawah eks rob di wilayah Bantaran Krapyak dan Clumprit seluas 95 hektare yang dulunya berupa rawa kini bisa ditanami kembali.
Kepala Dinperpa Kota Pekalongan, Lili Sulistyawati, mengungkapkan bahwa lahan baku sawah di Kota Pekalongan Tahun 2024 ini seluas 723,45 hektare. Meski dengan lahan terbatas, namun hal ini tidak mengurungkan semangat Dinperpa untuk bisa berdaya saing seperti kabupaten/kota lain dalam mendukung swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional.
Sejak adanya program penanggulangan banjir dan rob di Kota Pekalongan, terdapat 95 hektare yang tadinya lahan sawah tersebut tergenang rob kini sudah mengering dan bisa dimanfaatkan kembali menjadi lahan sawah dalam rangka memproduksi pangan pokok untuk mendukung swasembada pangan dan ketahanan pangan nasional.
"Kegiatan ini terlaksana atas kerjasama Pemkot Pekalongan melalui Dinperpa bersama Kodim 0710/Pekalongan, BBPSI Biogen, dan Yayasan Tasnim. Awalnya kami merencanakan lahan demonstration pilot (demplot) ini seluas 5 hektare, namun ternyata lahan eks rob ini pada saat musim kemarau sangat ekstrem sekali dengan kandungan kadar Total Dissolved Solids (TDS) yang sangat tinggi mencapai 8.643 TDS dan salinitas tinggi sebesar 18 Parts Per Thousand ( PPT ), sehingga membutuhkan perlakuan khusus," ujar Lili.
Dengan keterbatasan anggaran dan sarana dan prasarana serta kondisi yang ekstrem ini, lanjut Lili menyebutkan, akhirnya Dinperpa bisa melaksanakan demplot ini seluas 1,2 hektare.
Kegiatan demplot ini berada di area lahan sawah Kelompok Tani Harapan Jaya Kelurahan Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan. Pelaksanaan dimulai dari Bulan Juni sampai Bulan November 2024 yang dimulai dengan pembukaan lahan dan penyemprotan pestisida dengan menggunakan drone.
BACA JUGA:Panen Raya Padi Pak Tiwi 2, Gunakan Digital Farming, Produktivitas Tembus 9,8 Ton Perhektar
Berdasarkan hasil ubinan dari BPS untuk padi Biosalin 1 dengan kadar salinitas 7 Part Per Million (PPM), produktivitasnya dihitung sebesar 7,1 ton per hektare.
"Di seberang sana Alhamdulillah pada saat tanam yang sama juga menghasilkan 10 ton per hektare. Saat ini per tanggal 14 November 2024 dengan umur padi kurang lebih 94 hari setelah hari tanam akhirnya bisa dipanen bersama. Hal ini menunjukkan bahwa, varietas padi Biosalin bisa tumbuh di lahan eks rob," jelasnya.
"Kami berharap, kegiatan ini bisa memotivasi para petani Kota Pekalongan agar bisa mengelola lahan pertaniannya lebih produktif lagi dan meningkatkan kesejahteraan mereka dan masyarakat Kota Pekalongan," imbuh Lili. (way)