*Kurang Pengawasan Ortu, Banyak Anak Tak Ikut
KAJEN - Model pembelajaran jarak jauh (PJJ) selama pandemi Covid-19 diakui masih menghadapi banyak kendala. Akibatnya, dari hasil monitoring dan evaluasi (monev) diketahui jika tingkat partisipasi pembelajaran daring ini tak lebih dari 70%.
Beberapa kendala PJJ daring itu, mulai dari prasarana daring (hp/laptop/komputer), gangguan sinyal, tingkat partisipasi pelajar, hingga lemahnya daya tangkap anak terhadap materi pembelajaran lewat online.
Samijo (67), salah satu orang tua murid asal Desa Sidomulyo, Kecamatan Lebakbarang, kemarin, menuturkan, selama pembelajaran daring kendala yang dihadapi anaknya tidak bisa tatap muka dengan guru. Sehingga jika materi kurang jelas, anak kurang cepat dalam menerima materi pembelajaran karena tidak bisa aktif bertanya pada guru. Terkadang sinyal juga sulit.
Oleh karena itu, ia berharap meskipun masih pandemi pembelajaran tatap muka bisa dimulai. Minimal dalam sepekan, tiga kali pembelajaran tatap muka, atau dengan sistem bergilir. Sehingga jika anak kurang jelas dengan materi pelajaran bisa bertanya langsung kepada gurunya.
"Di tempat kami dari sekolah melewati hutan 17 km. Listrik sering mati karena kabel kena pohon tumbang. Listrik sering mati, sinyal kerap hilang," keluh dia yang anaknya sekolah di SMAN 1 Kajen.
Kepala SMAN 1 Kajen Heti Purwanti, mengatakan, pihak sekolah melalui guru mapel, wali kelas, dan guru BK selalu memantau anak selama pelaksanaan daring. Jika ada persoalan, home visit didampingi wali kelas dan guru BK.
"Jika ada persoalan sinyal di rumah, silahkan daring di sekolahan dengan izin orang tua dengan protokol kesehatan," kata dia.
Ia berharap, pandemi cepat berakhir sehingga bisa pembelajaran tatap muka dengan anak-anak.
PELATIHAN
Sementara itu, Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan Siti Masruroh mengatakan, PJJ sepertinya akan masih berlangsung sampai akhir tahun ini. Selama pandemi, kata dia, jika pembelajaran tatap muka sudah bisa dilakukan pun ada shift. Tatap muka mungkin tiga kali dalam seminggu. Artinya, PJJ masih berlangsung.
"Pandemi mulai Maret, kita belum ada dukungan dari APBD untuk PJJ. Pengalaman satu tahun ini luar biasa bagi para guru," kata dia.
Dari hasil evaluasi, lanjut dia, partisipasi PJJ tidak bisa 100 persen. Sekitar 60-70 persen berdasarkan monev para pengawas. Ini berdampak pada anak-anak yang kurang dukungan pengawasan dari orang tua.
"PJJ kan butuh pengawasan orang tua di rumah. Kalau orang tuanya bekerja kan tidak bisa melakukan pengawasan, makanya ini yang mungkin loss tidak ikut pembelajaran. Karena tidak ada pendampingan dari orang tua," ungkap dia.
Namun semua sekolah sudah berupaya maksimal dalam melakukan pembelajaran. Di antaranya menggabungkan pembelajaran daring dan luring. Ada yang melakukan kegiatan kelompok, home visit, dan ada pula beberapa anak yang dipanggil ke sekolah.