8 Fasda Tiga Daerah, Diantaranya 2 Dosen Salah Satunya Doktor

Senin 25-10-2021,12:30 WIB

**Talkshow Praktik Baik Tanoto Foundation-Radar Pekalongan Bagian 2 Istimewa

TALKSHOW kembali dimoderatori GM Radar Pekalongan, Ade Asep Syarifuddin serta host Slamet Rahmat Hariyanto selaku Communications Specialist Tanoto Foundation. Menjadi istimewa karena dari 8 fasilitator daerah (fasda) asal Kendal, Semarang, dan Yogyakarta, juga ada dua dosen muda dari Universitas Negeri Yogyakarya (UNY).

Semua Fasda membagikan pengalaman yang menginspiratif dan inovatif tentang bagaimana caranya untuk tetap bisa menghadirkan kualitas pendidikan terbaik di tengah pandemi Covid-19. Mereka adalah Normalia Eka Pratiwi guru SDN 1 Karangsari Kendal, dengan karyanya berjudul Video Membaca "Big Book" Mudahkan Predisksi Cerita, Siti Muslimah guru SDN 1 Purwokerto, Brangsong Kendal "Biji-Bijian Mudahkan Memahami Konsep Nilai Tempat", dan Zayyinul Firdaus guru SDN 1 Brangsong, Kendal lewat tulisan "LarCa, Aplikasi Penguat Proses MIKiR dalam Pembelajaran IPA Sekolah Dasar, serta satu narasumber dari Semarang, Aloysius Kristiyanto Kepala SMPN 29 Semarang dengan tulisan berjudul Jamboard Jadikan Pembelajaran Lebih Atraktif.

Dari Yogyakarta ada Herlina Nursiamti, guru SDN Ambarukmo, Depok, Sleman dengan tulisan "Praktik Baik Implementasi Pelatihan dari Tanoto Foundation" dan Dini Suryani guru SDN Catur Tunggal, Sleman, "Praktik Baik Pembelajaran di Masa Pandemi". Lalu ada dosen Tika Aprilia dengan tulisan baiknya berjudul Perkuat Study From Home Melalui Perkuliahan Akltif MIKiR Berbasis Aplikasi Mentimeter dan Fitur Ge Suite for Education. Sedangkan Fery Muhammad Firdaus, doses muda UNY yang sudah menyandang gelar Doktor tersebut menghadirkan tulisan "Siapa Bilang Daring Ga MIKiR".

Berawal dari prihatin dengan turunnya literasi anak saat pandemi, Karena membuat video membaca dengan mengunakan media Big Book. Hal ini dilakukanya untuk meningkatkan literasi di masa pandemi.

Video membaca Big Book itu diberikan kepada siswa kelas awal. "Dimulai dengan siswa memprediksi judul bukunya dengan mengamati gambar terlebih dahulu. Sebelum membaca judul dan asli naskahnya yang ada di big book, ana-anak sudah menulis dulu dengan memperediksi apa jalan ceritanya hanya dengan melihat gambar yang ada," ungkapnya.

Dengan adanya video membaca Big Book ini tidak hanya sekolah-sekolah mitra yang diuntungkan, sekolah lainya pun bisa mengaksesnya melalui kanal youtubenya. "Dengan metode ini, kelas awal sangat terbantu, khususnya anak-anak yang belum bisa membaca," tandasnya.

Sementara Siti Muslimah dari SDN 1 Purwokerto, Brangsong, Kendal, memaparkan pembelajaran dengan metode konvensional kurang dapat dipahami oleh anak didiknya, terlebih saat belajar berhitung. Maka metode pembelajaran dengan media biji-bijian memudahkan memahami konsep nilai tempat.

"Dalam belajar anak perlu sesuatu yang kongkrit. Jadi saya memilih benda apa yang ada di sekitar anak murah dan mudah di dapat. Shingga dengan biji-bijian yang mudah didapat di lingkunganya. Anak pun dapat memahami angka puluhan dan satuan," katanya.

Selaku moderator, Ade Asep Syarifuddin mengapresiasi dua guru, Fasda dari Kendal yang tampil pada sesi pertama. "Sedangkan pembelajaran melalui media biji-bijian yang disuguhkan oleh pemateri ketua sangat kreatif. Yakni guru mampu mencari cara bagaimana siswa bisa berhitung dengan cara yang mudah dan bisa memahamkan," katanya.

Communications Specialist Tanoto Foundation, Slamet Rahmat Hariyanto mengatakan, komposisi praktik baik sesi ke 2 ini sangat bervariasi. Tidak hanya yang dilakukan oleh guru, namun juga kepala sekolah dan dosen dari Mitra LPTK UNY.

"Kami berharap melalui talkshow praktik baik yang inovatif dan inspiratif kali ini dapat membantu guru-guru untuk menemukan metode yang tepat digunakan dalam pembelajaran khususnya di masa PTMT ini," katanya. (*)

Tags :
Kategori :

Terkait