Takziah ke Rumah Duka Diva Maelisa, Wakil Bupati Batang Minta Warga Lebih Waspada di Perantauan
Wakil Bupati Batang Suyono takziah ke rumah duka Diva Maelisa (15), remaja asal Desa Ngroto, Kecamatan Reban. -Istimewa -
BATANG - Wakil Bupati BATANG, Suyono, melayat langsung ke rumah duka Diva Maelisa (15), remaja asal Desa Ngroto, Kecamatan Reban, yang meninggal dunia usai diduga melompat dari lantai empat sebuah rumah kos di kawasan Bendungan Hilir (Benhil), Jakarta Pusat.
Kehadirannya menjadi bentuk perhatian pemerintah daerah terhadap warganya yang tengah berduka.
Suyono tiba di rumah duka pada Selasa (tanggal menyesuaikan) untuk menyampaikan belasungkawa sekaligus bersilaturahmi dengan keluarga korban. Atas nama Pemerintah Kabupaten Batang dan mewakili Bupati, ia mengungkapkan duka mendalam.
"Semoga keluarga diberi ketabahan dan almarhumah husnul khatimah," ujar Suyono di lokasi.
BACA JUGA:DPRD Batang Soroti Tiga Sektor Utama dalam LKPJ Bupati 2025, Infrastruktur hingga BPJS Kesehatan
Dalam sambutannya, ia juga meminta aparat penegak hukum mengusut tuntas peristiwa ini. Menurutnya, kasus yang menimpa remaja seusia Diva menjadi perhatian serius karena korban masih dalam usia produktif belajar.
"Kita berdoa agar aparat segera memproses dan mengusut tuntas. Jangan sampai kejadian serupa terulang," tegasnya.
Suyono juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda saat merantau. Ia menyebut kondisi sosial saat ini "tidak menentu" dan berharap ada hikmah di balik musibah tersebut. Ia pun mengimbau warga Batang, terutama remaja, untuk lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan saat berada di perantauan.
Diva dikenal warga sekitar sebagai pribadi ramah dan ceria. Suswandi, tetangga korban, mengungkapkan bahwa keluarganya tidak menyangka kejadian tragis itu menimpa Diva.
"Anaknya baik, ramah dengan teman-temannya. Kami tidak menyangka," kata Suswandi.
Di balik sikap hangatnya, Diva berasal dari keluarga dengan kondisi ekonomi terbatas. Orang tuanya bekerja sebagai buruh harian lepas dan petani penggarap. Kondisi itu diduga menjadi latar belakang Diva memutuskan bekerja di usia dini, meski menurut Suswandi, keinginan tersebut lebih karena dorongan mandiri, bukan tekanan keluarga.
"Motivasinya memang ekonomi, tapi juga keinginan mandiri. Mungkin ingin punya sesuatu sendiri seperti teman-temannya," jelasnya.
Setelah tamat pendidikan dasar, Diva sempat mondok di pesantren namun tidak bertahan lama. Ia lalu memilih merantau ke Jakarta. Fenomena remaja seusianya bekerja di perantauan disebut Suswandi tidak umum terjadi di Desa Ngroto. Kasus Diva menjadi satu-satunya yang menonjol dan menyisakan keprihatinan mendalam.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
