iklan banner Honda atas

Regenerasi Pembatik Mandek, Pemkab Batang dan Komunitas Pegiat Literasi Bahas Penyelamatan Batik Rifaiyah

Regenerasi Pembatik Mandek, Pemkab Batang dan Komunitas Pegiat Literasi Bahas Penyelamatan Batik Rifaiyah

Ketua TP PKK dan juga Dekranasda Kabupaten Batang, Failasufa Faiz Kurniawan dan penggiat Batik Rifaiyah Miftakhutin menjadi pembicara workshop upaya pelestarian batik Rifaiyah.-Dony Widyo -

BATANG – Sebanyak 24 motif Batik Rifaiyah, warisan budaya khas Kabupaten BATANG yang sarat nilai religius, kini tersisa hanya 16 motif. Ancaman kepunahan ini memicu gelaran workshop pelestarian di Joglomberan, Rabu (29/4/2026).

Kegiatan yang mempertemukan perajin, pegiat budaya, dan perwakilan pemerintah daerah tersebut digagas oleh Pegiat Literasi bersama komunitas Batik Rifaiyah.

Fokus utamanya adalah merumuskan strategi penyelamatan batik berciri khas spiritual itu dari titik rawan akibat minimnya regenerasi.

Miftakhutin, penggiat Batik Rifaiyah Batang, menyampaikan apresiasinya terhadap dukungan lintas pihak.

BACA JUGA:Investasi Triwulan I 2026 di Batang Tembus Rp3,88 Triliun, Tertinggi se-Jawa Tengah

BACA JUGA:Dekranasda Batang Dorong Pelestarian Batik Rifaiyah di Hari Batik Nasional

"Ini support system sangat bagus untuk kemajuan batik Rifaiyah ke depan. Dukungan dari Ibu Literasi dan Ibu Bupati memberi semangat baru agar kami terus berkarya lebih baik," ujarnya usai acara.

Menurut Miftakhutin, kolaborasi antara eksternal dan penguatan internal komunitas menjadi kunci utama menjaga produktivitas para pembatik. "Ke depan kami ingin terus mengonsolidasikan teman-teman agar semangat membatik tetap menyala," imbuhnya.

Sementara itu, Ketua TP PKK sekaligus Ketua Dekranasda Kabupaten Batang, Faelasufa Faiz, menilai Batik Rifaiyah memiliki keunikan historis dan spiritual yang langka. Proses pembuatannya dilakukan sambil melantunkan selawat dari awal hingga akhir pengerjaan.

"Usianya sudah lebih dari seratus tahun, tetapi baru mulai diperjualbelikan secara umum sekitar tahun 2010-an. Jadi keberadaannya di pasar masih sangat muda," tutur Faelasufa.

Faelasufa yang juga istri Bupati Batang M Faiz Kurniawan itu mengungkapkan keprihatinannya atas hilangnya delapan motif. Penyebab utamanya adalah para pembatik sepuh yang menguasai motif tersebut telah meninggal tanpa penerus.

"Waktu kami dokumentasikan tahun lalu, motif yang ditemukan tinggal 16. Ini concern kami karena jika tidak segera dijaga, risikonya Batik Rifaiyah bisa punah," jelasnya.

Sebagai langkah konkret, Dekranasda dan Pemkab Batang mengalokasikan anggaran khusus untuk pendokumentasian motif serta promosi di berbagai pameran nasional, termasuk Inacraft. Faelasufa menilai langkah ini penting untuk meningkatkan nilai ekonomi batik tersebut.

"Kalau nilai ekonominya naik, anak-anak muda akan tertarik menjadi pembatik karena merasa membatik bisa membuat mereka sejahtera," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait