iklan banner Honda atas

FABA Limbah PLTU Batang Disulap Menjadi Rumah Ikan, Hiu Paus dan Lumba-lumba Muncul

FABA Limbah PLTU Batang Disulap Menjadi Rumah Ikan, Hiu Paus dan Lumba-lumba Muncul

External Relation Manager PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), Dona Doni Putu Wignya menjelaskan pada pengunjung terkait pemanfaatan FABA untuk rumah ikan.-Dony Widyo -

BATANG – Limbah sisa pembakaran batu bara atau Fly Ash Bottom Ash (FABA) yang selama ini dianggap sebagai residu industri, justru kini dimanfaatkan untuk memulihkan ekosistem laut di perairan Karang Sepapang, Kabupaten BATANG, Jawa Tengah.

Material tersebut diolah menjadi struktur beton yang disebut Artificial Patch Reef (APR) dan Artificial Fish Apartment.

Hasilnya, struktur tersebut tidak hanya kokoh di dasar laut, tetapi juga menjadi daya tarik bagi satwa laut berskala besar.

Nelayan melaporkan adanya hiu paus, lumba-lumba, dan beberapa jenis hiu yang bermain di sekitar area APR yang kami pasang,” ujar External Relation Manager PT Bhimasena Power Indonesia (BPI), Dona Doni Putu Wignya, ditemui disela-sela acara Festival Gemar Makan Ikan di halaman Kantor Bupati Batang, Kamis (30/4/2026).

BACA JUGA:BPI Salurkan Bantuan Alat Kesehatan dan 500 Peket PMY untuk Posyandu di Roban Timur

BACA JUGA:Regenerasi Pembatik Mandek, Pemkab Batang dan Komunitas Pegiat Literasi Bahas Penyelamatan Batik Rifaiyah

Inovasi ini merupakan hasil kolaborasi antara PT BPI selaku pengelola PLTU Batang dengan tim akademisi dari Universitas Diponegoro (Undip). Sejak 2020, FABA yang dihasilkan dari proses produksi listrik mulai disulap menjadi beton rekayasa.

Berdasarkan monitoring pada pertengahan 2025, struktur tersebut masih utuh dan menjadi media tumbuh yang efektif bagi terumbu karang.

Menurut Dona, proses pertumbuhan karang terjadi secara alami atau disebut natural recruitment. “Polip-polip karang alami mau menempel di struktur APR yang kami pasang,” jelasnya menirukan keterangan Prof. Munasik dari tim Undip.

Artinya, karang tidak hanya berasal dari transplantasi buatan, tetapi juga dari bibit alami yang mencari habitat baru.

Memasuki tahun 2026, PT BPI berencana menambah 10 unit struktur baru yang didesain lebih kokoh. Titik pemasangan berada pada jarak sekitar 20 kilometer dari garis pantai atau lebih dari 12 mil laut. Target jangka panjangnya, luas area restorasi bisa mencapai satu hektar.

Selain aspek ekologi, program ini juga menyasar kesejahteraan nelayan setempat. Keberadaan APR yang dihuni ikan—dari jenis kecil hingga besar—diharapkan menghasilkan efek limpahan (spillover).

“Ikan-ikan dapat berkembang biak di sana, dan pada akhirnya bisa ditangkap nelayan. Tujuannya meningkatkan sumber daya perikanan,” pungkas Dona.

Sebelum diterapkan di Batang, metode serupa telah diuji di perairan Karimunjawa dan Jepara dengan hasil positif. Hal ini menunjukkan bahwa limbah industri seperti FABA, jika dikelola dengan pendekatan teknologi dan ilmiah, dapat berubah menjadi solusi pemulihan lingkungan, bukan sekadar beban ekologis.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait