Banner Iklan BYD
banner honda Juli 2026

Di Balik Darah yang Terus Mengalir, Ada Gotong Royong JKN Menjaga Harapan Penyandang Talasemia

Di Balik Darah yang Terus Mengalir, Ada Gotong Royong JKN Menjaga Harapan Penyandang Talasemia

Salah satu pasien Talasemia, Zidna (15) saat menjalani transfusi di ruang One Daya Care Talasemia RSUD Batang-Radar Pekalongan/Novia Rochmawati-

BATANG, RADARPEKALONGAN.CO.ID– Kantong darah berwarna merah tua tergantung di sisi tempat tidur ruang One Day Care Talasemia RSUD Batang. Perlahan, darah mengalir melalui selang infus menuju lengan kiri Zidna Lailatul Nadifah (15). Sesekali siswi asal Desa Wonodadi, Kecamatan Bandar, itu menoleh ke arah ibunya, Kurniati (31), yang duduk setia di samping tempat tidur.

Tak banyak percakapan di sana, Kurniati hanya sesekali mengusap tangan putrinya sambil memastikan transfusi berjalan lancar. Bagi ibu muda itu, pemandangan tersebut sudah menjadi bagian dari kehidupan yang dijalani selama lebih dari satu dekade.

Sejak didiagnosis talasemia pada usia empat tahun, Zidna harus menjalani transfusi darah rutin setiap tiga minggu sekali agar kadar hemoglobinnya tetap terjaga.

"Kalau sudah pegal-pegal sama pusing, dia bilang sendiri. Itu tandanya sudah waktunya transfusi," tutur Kurniati.

Rabu, 10 Juni 2026, Zidna kembali menjalani transfusi di RSUD Batang. Jadwal itu sebenarnya mundur dua hari. Seharusnya ia menjalani transfusi pada Senin, 8 Juni 2026. Namun hari itu bertepatan dengan pendaftaran peserta didik baru di SMAN 1 Bandar.

Kurniati tak ingin putrinya kehilangan kesempatan melanjutkan pendidikan. Ia pun menghubungi petugas rumah sakit untuk meminta jadwal transfusi diundur.

"Harusnya tanggal 8 transfusi, tapi karena ada pendaftaran SMA, saya langsung WhatsApp rumah sakit supaya dijadwalkan tanggal 10," ujarnya.

Saat itu, Zidna baru mendaftarkan diri ke SMAN 1 Bandar dan masih menunggu hasil seleksi. Sebelum tiba di ruang transfusi pagi itu, Kurniati dan Zidna sudah lebih dulu menempuh perjalanan dari rumah mereka di Kecamatan Bandar menuju RSUD Batang sejak selepas Subuh. Perjalanan tersebut bukan sekadar rutinitas. Ada perjuangan yang selalu menyertainya.

Suami Kurniati bekerja sebagai buruh harian lepas dengan penghasilan di bawah Upah Minimum Regional (UMR). Bila harus mengantar Zidna menjalani transfusi, berarti satu hari kesempatan bekerja harus dikorbankan.

"Kalau bapaknya yang antar, bapaknya enggak bisa kerja. Kalau ada proyek ya kerja, kalau enggak ada ya menganggur," katanya.

Keadaan itulah yang membuat Kurniati memutuskan belajar mengendarai sepeda motor. Padahal sebelumnya ia tidak berani berkendara sendiri.

"Dulu bapaknya enggak tega kalau saya naik motor sendiri. Tapi sekarang sudah harus berani, supaya bisa mandiri mengantar anak transfusi," ucapnya.

Kini, setiap tiga minggu sekali, ia mengendarai motor menuju RSUD Batang. Sekali datang, keluarga tetap harus menyiapkan ongkos sekitar Rp100 ribu hingga Rp150 ribu untuk bensin, makan siang, uang jajan Zidna, hingga kuota internet agar putrinya tetap nyaman selama menjalani transfusi.

Meski masih ada biaya yang harus dikeluarkan, Kurniati mengaku bersyukur karena biaya pengobatan utama putrinya ditanggung Program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait