Pendangkalan Muara Sungai Sambong Hambat Nelayan Batang, DPRD Dorong Pengadaan Kapal Keruk Baru
Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Batang, Nur Untung Slamet.-Istimewa -
BATANG - Aktivitas nelayan di Kabupaten Batang kembali terganggu akibat pendangkalan yang terjadi di muara alur Sungai Sambong. Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Batang mendesak pemerintah daerah untuk segera merealisasikan pengadaan kapal keruk baru melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) tahun anggaran 2026.
Sekretaris Komisi III DPRD Kabupaten Batang, Nur Untung Slamet, mengungkapkan bahwa sedimentasi di muara sungai telah menyulitkan nelayan untuk keluar masuk perairan laut.
Kondisi ini diperparah ketika gelombang laut mulai membaik, namun akses muara justru tertutup endapan lumpur dan pasir.
"Banyak nelayan yang mengeluhkan kondisi ini. Meskipun gelombang sudah mulai bersahabat, muara masih dangkal sehingga mereka terpaksa tidak melaut," ujar Untung saat ditemui di ruang kerjanya, Senin 3 Agustus 2026.
BACA JUGA:DPRD Batang Sebut KPBU PJU 'Batang Terang' Masuk RPJMD, Tekankan Ketahanan Fiskal
BACA JUGA:Dana Desa di Batang Tergerus Rp600 Juta per Wilayah, Sisa Anggaran Hanya Ratusan Juta
Legislator dari Daerah Pemilihan (Dapil) 1 Batang ini menjelaskan bahwa pola sedimentasi di muara Sambong mengalami perubahan signifikan. Menurutnya, fenomena tersebut berkaitan dengan menurunnya daya dorong aliran air dari wilayah selatan menuju kawasan muara.
"Saat ini, kecepatan arus air menjelang muara tidak lagi deras. Dorongan dari arah selatan melemah, sehingga justru gelombang laut yang membawa material pasir masuk ke muara," jelas Untung.
Akibat kondisi tersebut, tumpukan lumpur di sepanjang alur sungai kian bertambah. Untung juga menyoroti keberadaan bangkai kapal yang bersandar di tepi sungai, yang dinilai turut menghambat kelancaran aliran air menuju muara.
Menanggapi persoalan tersebut, DPRD Batang mendorong pengadaan kapal keruk baru sebagai solusi jangka pendek yang krusial. Untung menilai alat berat tersebut sangat dibutuhkan untuk menjaga akses jalur pelayaran nelayan tetap terbuka.
"Kapal keruk atau cakruk milik Dinas Perikanan Kabupaten Batang saat ini sudah uzur. Saya sendiri menyaksikan langsung kondisinya saat beroperasi di eks alur Sambong lama—sangat memprihatinkan. Bagian papan kapal sudah keropos, sehingga kemampuan pengerukannya sangat terbatas," ungkapnya.
Untung menegaskan pentingnya komitmen Pemkab Batang untuk tidak kembali menunda pengadaan kapal keruk baru. Ia berharap kebutuhan mendesak ini dapat diakomodasi dalam APBD-P 2026.
Pengadaan kapal keruk baru juga dinilai sebagai langkah antisipatif menghadapi peningkatan sedimentasi saat musim penghujan tiba. Untung memperkirakan, aliran air dari selatan akan membawa lebih banyak material sedimen menuju muara.
"Desember hingga Januari 2027 diprediksi akan terjadi hujan terus-menerus. Air bah dari selatan akan turun berulang kali, yang otomatis mempercepat penumpukan sedimen," paparnya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

