Marak Investor Tiongkok, Disnaker Batang Sebut Peluang Kerja Translator Mandarin Bergaji 2 Digit Terbuka Lebar
Ilustrasi - Investasi Tiongkok di Batang buka peluang kerja translator Mandarin dengan gaji hingga Rp15 juta-AI-CHAT GPT -
BATANG, RADARPEKALONGAN.CO.ID – Masuknya perusahaan dengan investasi asal Tiongkok di Kabupaten Batang membuka peluang kerja baru bagi masyarakat. Salah satu posisi yang kini mulai banyak dibutuhkan adalah translator atau penerjemah bahasa Mandarin dengan kisaran gaji mencapai Rp7 juta hingga Rp15 juta per bulan, tergantung kemampuan dan kebutuhan perusahaan.
Kepala Dinas Ketenagakerjaan (Disnaker) Kabupaten Batang, Suprapto, mengatakan kebutuhan tenaga yang menguasai bahasa Mandarin terus meningkat seiring berkembangnya perusahaan di Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB) maupun Batang Industrial Park (BIP).
Menurutnya, kemampuan bahasa Mandarin menjadi salah satu kompetensi yang memiliki peluang besar di tengah pertumbuhan industri.
"Untuk translator Mandarin, informasinya bisa mulai dari sekitar Rp7 juta sampai Rp15 juta, tergantung kemampuan dan kebutuhan perusahaan," ujar Suprapto.
Namun, peluang tersebut masih menghadapi tantangan karena kemampuan bahasa Mandarin belum banyak dimiliki masyarakat Batang. Hingga kini pun belum terdapat lembaga pelatihan khusus bahasa Mandarin di daerah tersebut.
Suprapto menyebut, belajar bahasa Mandarin membutuhkan proses yang cukup panjang sehingga generasi muda perlu mulai mempersiapkan diri sejak dini.
"Belajar bahasa Mandarin memang membutuhkan waktu, tidak bisa langsung jadi. Karena itu, generasi muda Batang harus mulai menangkap peluang ini dengan meningkatkan kemampuan dan pendidikannya," katanya.
Ia berharap ke depan ada lembaga pendidikan maupun pelatihan yang membuka program bahasa Mandarin agar masyarakat memiliki akses untuk mempersiapkan kompetensi sesuai kebutuhan industri.
Selain generasi muda, Suprapto menilai pekerja migran Indonesia (PMI) yang pernah bekerja di Hongkong maupun Taiwan juga memiliki peluang mengisi kebutuhan tersebut karena telah memiliki bekal kemampuan berbahasa Mandarin.
Meski demikian, menurutnya, sebagian PMI masih menghadapi kendala berupa usia dan kualifikasi pendidikan formal yang dipersyaratkan perusahaan.
"Teman-teman PMI yang pernah bekerja di Hongkong maupun Taiwan sebenarnya punya modal kemampuan bahasa. Tetapi mungkin ada yang terkendala usia maupun kualifikasi pendidikan, karena sebagian besar latar belakang pendidikannya masih SMP atau SMA sederajat," jelasnya.
Karena itu, Suprapto mendorong masyarakat, khususnya generasi muda, untuk terus meningkatkan pendidikan dan kompetensi agar mampu memanfaatkan peluang kerja yang muncul seiring pesatnya investasi di Kabupaten Batang. (Nov)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:

