iklan banner Honda atas

Potensi Pendapatan TPI Hilang Rp 80 Juta

Potensi Pendapatan TPI Hilang Rp 80 Juta

*Lelang Tutup Lima Hari

KOTA - Gelombang tinggi yang terjadi di perairan utara akhir-akhir ini membuat aktivitas lelang ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Pekalongan sempat tutup selama lima hari yakni sejak 9 hingga 13 Desember 2020. Lelang di TPI baru berjalan kembali pada Senin (14/12/2020). Akibat kondisi tersebut, potensi PAD hilang sebesar Rp 80 juta.

Kepala UPTD TPI Kota Pekalongan, Mochtar Sanusi mengatakan, gelombang tinggi di atas dua meter yang terjadi di perairan utara membuat kapal kecil hingga sedang tidak diperbolehkan melaut. Sementara kapal besar juga tidak ada yang masuk ke Kota Pekalongan karena memilih menepi ke kepulauan terdekat.

"Sudah lima hari tidak ada lelang karena gelombang tinggi yang mencapai dua meter. Kondisinya tidak kondusif, baru hari ini ada lelang sehingga memang tidak ada retribusi yang masuk. Potensi pendapatan yang hilang, kalau per hari itu sekitar Rp 17 juta sampai Rp 20 juta ya total mencapai sekitar Rp 80 juta," tuturnya.

Meski demikian, dia menyatakan bahwa potensi pendapatan yang hilang tak berpengaruh terhadap target PAD TPI. Sebab sejak November lalu PAD TPI sudah mencapai target yakni sebesar Rp 5 miliar. "Target TPI tahun ini sebesar Rp 5 miliar dan sudah tercapai per 7 Desember 2020 lalu yakni sebesar Rp 5,025 miliar," tambah Mochtar.

Jika dibandingkan tahun 2019 lalu, target tahun ini mengalami penurunan karena adanya penyesuaian akibar pandemi Covid-19. Pada 2019, TPI ditargetkan meraih pendapatan sebesar Rp 6 miliar dan tercapai Rp 5,3 miliar. Dengan capaian saat ini yang sudah menyentuh angka Rp 5 miliar, Mochtar optimistis hingga akhir Desember mendatang minimal perolehan pendapatan TPI bisa menyamai capaian tahun lalu.

"Pada awal pandemi, pendapatan TPI memang mengalami penurunan drastis sampai Agustus. Bahkan pada Juli, pendaptan justru minus 13 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Tapi kemudian pada September mulai ramai, hingga Oktober dan November pendapatan naik signifikan dan bahkan berhasil menutupi kekurangan pada bulan-bulan sebelumnya," jelasnya.

Hal itu, lanjut Mochtar, dipengaruhi harga ikan yang pada bulan-bulan tersebut naik drastis dibandingkan bulan sebelumnya. Saat awal pandemi hingga pertengahan tahun, harga ikan anjlok karena permintaan yang menurun drastis. Tapi kemudian harga berbalik naik hingga mencapai Rp 2 ribu per kilogram.

"Kenaikan rata-rata Rp 1 ribu per kilogram. Bahkan dalam satu bulan ada yang naik sampai Rp 2 ribu. Mungkin karena restoran dan rumah makan mulai buka, kebutuhan ikan mulai meningkat sehingga harganya juga turut naik," kata Mochtar.

Selain faktor pandemi Covid-19, sepinya TPI pada pertengahan tahun juga dipengaruhi kondisi TPI yang hampir setiap bulan kebanjiran. Terhitung sejak Juli, dapat dipastikan TPi selalu terendam banjir saat puncak pasang tertinggi air laut. "Banjir bahkan sampai merendam lantai TPI. Kondisi demikian baru terjadi tahun ini, tahun sebelumnya biasanya hanya pada musim hujan tapi tahun ini hampir setiap bulan banjir. Ini menyebabkan animo para pengusaha juga menurun," ujarnya.

Selain itu, masuknya musim hujan lebih awal yakni pada November lalu juga berpengaruh pada kondisi pendangkalan di muara yang terjadi lebih cepat. "Biasanya musim hujan terjadi pada Desember, tapi saat ini sudah sejak November. Sehingga pendangkalan juga sudah terjadi dan kapal-kapal di atas 60 GT sudah sulit untuk masuk. Ini juga akan mempengaruhi pendapatan TPI sampai akhir Desember nanti," tandasnya.(nul)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: