iklan banner Honda atas

Liciknya Presiden AFC yang Ternyata dari Keluarga Penguasa Bahrain

Liciknya Presiden AFC yang Ternyata dari Keluarga Penguasa Bahrain

Liciknya Presiden AFC yang Ternyata dari Keluarga Penguasa Bahrain-Starting Eleven Story-Youtube

Ia terus naik pangkat hingga menjadi Presiden BFA dan kemudian Presiden AFC pada tahun 2013.

Namun, kepemimpinannya tidak lepas dari isu kontroversial, seperti dugaan penyiksaan terhadap atlet-atlet yang terlibat dalam pemberontakan di Bahrain pada tahun 2011.

BACA JUGA:Curhatan Shin Tae-yong Usai Timnas Indonesia dirampok” di Bahrain dan kalah di China

Meski tuduhan pelanggaran HAM terus menghantui, namun Salman berhasil terpilih kembali sebagai Presiden AFC, bahkan menjabat sebagai Wakil Presiden FIFA sejak 2018.

Langkah-langkahnya sering kali memicu konflik kepentingan, terutama di kalangan negara-negara Timur Tengah.

Meski ada banyak pihak yang menentang, namun Salman tetap berhasil mempertahankan posisinya sebagai salah satu tokoh penting di dunia sepak bola internasional.

BACA JUGA:PSSI Akan Evaluasi Kinerja Timnas Indonesia Pasca Kekalahan Kontra China

Pada tahun 2024, AFC bahkan mengubah aturan batas masa jabatan, sehingga memungkinkan Salman untuk terus menjabat lebih dari 12 tahun, yang akhirnya memicu kekhawatiran akan potensi korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan di masa mendatang.

Kontroversi semacam ini tampaknya akan terus membayangi AFC selama Salman masih memegang kendali di puncak organisasi.

Kontroversi yang melingkupi Salman bin Ibrahim Al Khalifah menunjukkan bagaimana kekuasaan di sepak bola dapat dipertahankan melalui jaringan politik dan koneksi keluarga.

BACA JUGA:Gemparkan Dunia! Lobi Bahrain Direspon AFC! 36 Negara Anggota Siap Keluar dari AFC Demi Timnas Indonesia?

Meskipun tuduhan pelanggaran HAM dan konflik kepentingan terus menghantui, namun Salman berhasil mempertahankan posisinya sebagai Presiden AFC dan Wakil Presiden FIFA.

Perubahan aturan masa jabatan pada tahun 2024, yang memungkinkan dirinya untuk terus menjabat lebih dari 12 tahun juga menjadi sinyal bahaya bagi integritas organisasi sepak bola Asia.

Kasus yang menimpa Indonesia dalam laga melawan Bahrain hanyalah salah satu contoh bagaimana keputusan-keputusan yang merugikan bisa memunculkan spekulasi tentang praktik tidak adil di level internasional.

BACA JUGA:Kabar Gembira Timnas! 3 Pemain Grade A Resmi Bergabung dengan Timnas Indonesia, Siapa Saja?

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber:

Berita Terkait