Produktivitas Kakao Batang Belum Memadai
*Penuhi Permintaan, Empat Desa Dijadikan Demplot
BATANG - Produktivitas budidaya tanaman kakao di Kabupaten Batang ternyata belum memadai untuk mengcover kebutuhan industri pembuatan makanan bercitarasa manis itu.
Seperti diungkapkan Ketua Asosiasi Kakao Indonesia Kabupaten Batang, Zaenal Acheroh. "Produktivtas kakao di Batang belum mampu mencukupi kebutuhan PT UGM Cocoa Teaching Industry. Sekalipun keselurahan produktivitas petani itu bagus," katanya, Minggu (23/1/2022).
Batang, kata dia, memang memiliki potensi pengembangan tanaman kakao. Di mana luasan lahan budidaya tanaman kakao di Batang ada sekitar 800 ha.
"Dulu, sebelum ada pembangunan PLTU dan Jalan Tol luasannya bisa mencapai 1.500 ha, dan kini tersisa 800 ha. Luasan lahan kakao ini masih terbilang cukup luas di Pulau Jawa," ujarnya.
Dijelaskan dia, saat ini Dinas Pangan dan Pertanian (Dispaperta) Kabupaten Batang, Universitas Gajah Mada (UGM) Yogyakarta bersama pihak swasta tengah memfasiliasi pembuatan demplot kakao di Batang.
Tujuannya, pertama untuk mengembalikan kejayaan produktivitas tanaman tersebut yang pernah moncer. Selain itu, demplot disiapkan sebagai contoh peningkatan produktivitas perkebunan kakao untuk memenuhi kebutuhan PT UGM Cocoa Teaching Industry yang berada di Desa Sigayung, Kecamatan Tulis.
Empat desa yang dipilih untuk dijadikan demplot, yaitu Desa Kenconorejo, dan Desa Kedungsegok di Kecamatan Tulis, serta Desa Siwatu, dan Desa Brokoh di Kecamatan Wonotunggal.
"Tahun 2020 Dispaperta Batang memberikan semangat petani kakao agar produksinya bisa baik seperti dulu. 800 ha jika dipelihara dengan bagus sesuai standar operasional prosedur (SOP) dalam satu tahun, produktivtasnya bisa mencapai 800 ton," ungkap Zaenal.
Kendala utama merosotnya produktivitas kakao di Batang, kata dia, tidak ada pendampingan dan petani kurang memperhatikan serta merawat tanamannya. Alhasil, banyak petani kakao yang menebang tanamanya karena hasilnya kurang. "Ke depan jika demplot ini berhasil, akan ditingkatkan hingga ratusan hektar," terang Zaenal.
Ia menyebutkan, demplot di empat desa itu sudah memilki tanaman produksi. Usianya mulai 8 sampai 15 tahun. Pohon kakao yang sudah tua mulai bagus kembali mulai daun hingga batang. Dulu satu pohon menghasilkan 3-4 buah, kini bisa sampai 15 buah.
"Harga dasar kakao di tengkulak kisaran Rp2.820 per kilogram. Diharapkan ke depan biji kakao harus full vermentasi dengan kadar air 57 persen," katanya.
Pihak swasta yang bekerja sama dengan petani kakao adalah PT Biokonversi Indonesia. Hal ini untuk membuktikan hasil produktivitasnya naik dan mengembalikan perilaku petani untuk mencintai tanaman kakao. "Adapun panen raya tanaman kakao itu di bulan Desember, Mei dan Juni," tandasnya. (fel)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:



