Dirgahayu Batang Atas
iklan banner Honda atas

Selamat, SMAN 1 Batang jadi Sekolah Ramah Anak Pertama di Batang

Selamat, SMAN 1 Batang jadi Sekolah Ramah Anak Pertama di Batang

BATANG - SMAN 1 Batang mendeklarasikan diri sebagai sekolah ramah anak (SRA), Jumat (7/10/2022). Dengan deklarasi ini SMAN 1 Batang menjadi sekolah ramah anak pertama di Kabupaten Batang.

Kasi SMA/LB Cabang Dinas Pendidikan Wilayah 13 Jawa Tengah, Adelika Mahmudiyah turut mengapresiasi deklarasi SRA oleh SMAN 1 Batang. Adanya SRA ini juga menjadi cara untuk mencegah dosa besar dunia pendidikan di Indonesia. Seperti pelecehan seksual, kegiatan intoleransi, dan perundungan.

"Akhir-akhir ini banyak terjadi pelecehan seksual dan bullying di sekolah. Dengan adanya SRA ini sekolah bersama pihak terkait sudah ikut berperan dalam menciptakan sekolah yang aman untuk anak didik," ujarnya.

Adel menjelaskan, Sekolah Ramah Anak adalah sekolah yang secara sadar berupaya menjamin dan memenuhi hak-hak anak. Khususnya dalam setiap aspek kehidupan secara terencana dan bertanggung jawab. SRA sendiri berprinsip pada penanaman non diskriminasi kepentingan, hak hidup serta penghargaan terhadap anak.

Selain itu juga transparansi dan akuntabilitas, partisipasi, keterbukaan informasi, dan supremasi hukum di satuan pendidikan.

"Kami berharap SMAN 1 Batang dapat mendorong sekolah lainnya untuk menjadi sekolah SRA. Sehingga bisa meminimalisir hal yang tidak diinginkan. Serta juga bisa melindungi hak-hak anak ketika bersekolah," harapnya.

Plt Kepala SMAN 1 Batang, Subagyo menjelaskan, bahwa SRA di sekolahnya sudah dirintis dari tahun sebelumnya. Meski begitu, secara formal baru dideklarasikan.

Salah satu tujuan penerapan SRA ini adalah menghindari perilaku/tindakan yang bersifat ancaman atau tekanan terhadap siswa. Sehingga menciptakan kondisi siswa gemar berekspresi dan kerja dalam belajar.

"Dengan deklarasi ini, seluruh elemen SMAN 1 Batang bisa memberi rasa aman dan nyaman kepada siswa dalam belajar dan beraktivitas. Sehingga dapat menciptakan pembelajaran yang sifatnya penuh daya kreasi, mengarah siswa "kasmaran" dalam belajar, artinya belajar tidak lagi sebagai kewajiban melainkan menjadi kebutuhan bagi siswa," ujarnya. (nov)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: