Harga Melejit, Penjualan Telur Anjlog
BATANG - Harga telur yang melejit membuat penjualan telur ikut menurun. Hal ini seperti yang dialami oleh salah satu pedagang di Pasar Batang, Sutiadi (38).
Bahkan semenjak kenaikkan harga telur hingga Rp32 Ribu per kilo, jumlah pembelian telur berkurang hingga 50 persen. Ketika harga normal di kisaran Rp20 Ribu per kilo, ia mampu menjual sekitar 20-40 peti telur. Namun kini ia hanya bisa menjual sekitar 10-15 peti telur sehari.
"Banyak pembeli yang akhirnya bat membeli telur saat diberi tahu harganya naik. Mereka lebih memilih membeli lauk lain," ujarnya saat diwawancarai, Selasa (28/12/2021).
Lelaki asal Denasri Wetan ini turut menjelaskan jika saat ini ia pun mengurangi jumlah stok. Mengingat kenaikkan harga telur yang sudah dialami sekitar dua Minggu terakhir.
"Semenjak naik kami tidak berani stok terlalu banyak. Untuk jaga-jaga jika nantinya harga telur turun drastis. Biasanya pas awal tahun nanti harga telur berangsur menurun," imbuhnya.
Menurut informasi yang ia dengar, kenaikkan harga ini dipicu banyaknya ayam petelur yang dijual. Sehingga stok telur menipis sementara di akhir tahun banyak permintaan telur.
"Kemarin harga telur sempat jatuh, akhirnya produsen banyak yang jual ayam mereka. Dan sekarang hasil produksinya menjadi turun, sehingga karena stoknya sedikit harganya jadi mahal. Saya sendiri ambilnya di peternak lokal denga harga yang sudah tinggi," pungkasnya.
Tak hanya pedagang, Mila pembeli yang merupakan ibu rumah tangga juga mengeluhkan harga telur yang meroket
Ia pun harus mengurangi jumlah pembelian dari biasanya.
"Kebetulan anak sukanya telur, jadi setiap hari harus stok, tahu harga telur tinggi jelas kaget, ya sudah jatahnya dikurangi biasanya beli satu kilogram ini jadi setengah kilogram saja," ujar warga Cepokokuning itu.
Usai melaunching E-Retribusi di Pasar Batang beberapa waktu lalu, Bupati Batang Wihaji pun menyempatkan untuk melakukan pengecekan harga telur.
"Iya memang banyak yang mengeluhkan harga telur, sebelumnya minyak gorwng juga, tadi sudah saya cek memang harganya cukup tinggi," tuturnya.
Menurutnya, kenaikan harga komoditas pangan pokok memang seringkali mengalami naik turun terutama saat momen tertentu misalnya lebaran dan nataru.
"Kalau dilihat hukum pasar, barang langka harga naik dan sebaliknya barang banyak harga turun," pungkasnya.(nov)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
