Waspada! Kampus jadi Target Penyebaran Radikalisme
*Pintu Masuk Lewat Ospek sampai Kajian
BATANG - Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Kabupaten Batang kembali mengingatkan kalangan kampus terhadap potensi penyebaran paham dan gerakan radikal di lingkungannya. Pasalnya, kelompok radikal juga gencar merekrut kaum muda terdidik dengan menjadikan kampus sebagai targetnya.
Pesan itu disampaikan Kepala Badan Kesbangpol Batang, Agung Wisnu Barata, di hadapan mahasiswa Prodi D3 Kehumasan PSDKU Undip di Batang, Rabu (2/11/2022), di Kampus PSDKU Undip Bandar. Menurut Agung, radikalisme memiliki keterpautan dengan intoleransi, dan bisa menjelma menjadi terorisme.
"Jadi, siklusnya adalah dari intoleransi, lalu radikalisme, lalu terorisme. Meskipun radikalisme selalu tidak bermuara pada aksi terorisme, tetapi ibarat pohon, ibitnya sudah ada," ungkapnya.
Menurut Agung, kampus dengan mahasiswanya telah menjadi target penyebaran radikalisme, baik radikal kanan berbasis agama, kiri (komunisme), maupun sosialisme demokratik (sosdem). Pun kekhawatiran serta warning pemerintah bukan tanpa dasar.
"Karena beberapa hasil riset juga sudah membuktikan dugaan ini. Salah satunya riset yang dilakukan Pusat Pengkajian Islam dan Masyarakat (PPIM) UIN Jakarta di tahun 2020, hasilnya cukup mengejutkan. Bahwa satu dari tiga mahasiswa ternyata memiliki potensi sikap intoleran. Kalau melihat siklus tadi, ini sudah mengkhawatirkan," jelas Agung.
Dijelaskan, sejauh ini mahasiswa menjadi target strategis bagi kelompok radikalis untuk membangun basis dukungan sekaligus kaderisasi. Modusnya, selain memanfaatkan media sosial, juga memanfaatkan organisasi hingga unit kegiatan mahasiswa sebagai akses penyebarannya.
"Metode dan pola rerutmennya biasanya sejak masa orientasi mahasiswa baru (OSPEK), mereka (radikalis) akan masuk ke struktur kepanitiaan dan mengambil peran strategis yang memungkinkannya mendampingi mahasiswa baru. Dari sinilah mereka akan memasukkan pikiran-pikirannya ke mahasiswa baru. Bahkan ada juga yang menggunakan pola kajian keislaman, menyasar mereka yang sedang ingin belajar agama, ya seperti kelompok NII (Negara Islam Indonesia, red)," terangnya.
PERLU PENCEGAHAN
Mengingat upaya penyebaran radikalisme yang terstruktur, lanjut Agung, maka pihak kampus bersama-sama pemerintah juga perlu melakukan upaya-upaya pencegahan yang sistematis dan berkelanjutan. "Yang pertama dan utama, pahamkan mahasiswa bahwa paham dan gerakan radikal itu ada di lingkungan mereka, sehingga mereka semakin melek dan waspada," ujarnya.
Selanjutnya, Agung berharap kurikulum pembelajaran di kampus juga memberi ruang yang memadai bagi penanaman wawasan dan nilai-nilai Pancasila, wawasan kebangsaan hingga bela negara.
"Disebut gerakan radikal kan karena ingin merubah sesuatu yang mendasar, pondasi kehidupan berbangsa dan bernegara, yakni Pancasila. Maka untuk menangkalnya ya perkuat pemahaman tentang Pancasila dan sebisa mungkin didesain lebih kreatif dan inovatif serta bermuara pada aktualisasi nilai," saran Agung.
Dosen PSDKU Undip, Dr Dwi Retno Irianto, mengatakan, mahasiswa perlu lebih banyak tahu tentang apa itu intoleransi, radikalisme hingga terorisme. Pemahaman itu minimal untuk membentengi diri, dan syukur-syukur bisa disebarluaskan ke lingkungannya masing-masing.
"Jadi kami sengaja hadirkan Pak Agung untuk memberikan pemahaman yang mendasar sekaligus aktual tentang radikalisme. Karena radikalisme nyatanya masuk lewat pintu manapun, termasuk media sosial, ruang di mana mahasiswa saat ini tak bisa lepas darinya. Jadi, pahami konsepnya, pola pergerakannya, sehingga bisa lebih waspada," kata Retno.
Sementara salah satu peserta, Sahila Pramesti, mahasiswa D3 Humas PSDKU Undip angkatan 2022, mengaku mendapatkan wawasan baru tentang apa itu radikalisme dan bagaimana pola penyebarannya di kampus. "Saya jadi tahu tentang potensi bibit-bibit radikalisme di kampus. Kami juga diberikan pemahaman tentang bagaimana mengantisipasinya," tuturnya. (sef)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
