iklan banner Honda atas

Potensi Porang Belum Digarap Optimal

Potensi Porang Belum Digarap Optimal

*Potensi Besar, Harga Jual Tinggi

KARANGANYAR - Budidaya tanaman porang belum digarap secara optimal di Kabupaten Pekalongan. Padahal potensi lahan sangat luas dan porang memiliki nilai ekonomis yang tinggi.

Porang saat ini memang tengah tren lantaran harga jualnya yang tinggi. Masyarakat banyak membudidayakan tanaman porang. Bukan hanya petani. ASN dan profesi lainnya pun banyak yang mencoba keberuntungannya di tanaman porang ini.

Untuk itu, Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Pemprov Jateng Cabang Dinas Kehutanan Wilayah IV menggelar Temu Karya Penyuluh Kehutanan Swadaya Masyarakat (PKSM) dengan tema Budidaya Porang di Warunk Platt Monkull, Kamis (8/4/2021).

Dalam temu karya tersebut menghadirkan narasumber master porang, yakni Ngakib Alghozali, Ketua DPP PPPN, dan Abdul Azizu Rochman, Ketua DPD PPPN Kabupaten Pekalongan.

Rohim, PKSM dari Desa Bantarkulon, Kecamatan Lebakbarang mengatakan saat ini ikut menanam porang. Ia mengaku baru menanam porang dalam jumlah kecil. "Bibit ambil di hutan liar. Bagus atau tidak saya belum tahu. Budidaya masih belum maksimal. Saya tanam di bawah tegakan. Bawa linggis, tanah dijongket, bibit dileboke, tidak dirawat. Lima bulan dilihat. Umbi kecil-kecil. Pemupukan ndak ada," kata dia.

Ia sendiri mengaku kenal tanaman porang sejak lama. Pada tahun 80-an, kata dia, ia biasa mencari porang liar di hutan untuk dijual. "Tahun 80-an harganya 5 perak, atau sekilo porang dituker permen dua," ungkapnya. Ia berharap harga porang bisa terus standar. Harga porang jangan dipermainkan tengkulak. "Keluh kesah kami terkait dengan harga. Tolong ndak usah tinggi tapi standar. Jangan seperti kapulaga. Jam 10 harganya Rp 10 ribu, jam 2 anjlok jadi Rp 5 ribu. Jika harga standar, petani tak ragu tanam porang," kata dia.

Menurutnya, di Kecamatan Lebakbarang sudah banyak petani yang antusias tanam porang. Hampir 70 persen petani di Lebakbarang tanam porang. Harapannya, petani bisa makmur dengan porang. "Sekarang mulai panen. Petani tidak sabar jual karena tengkulak luar daerah berdatangan. Dari harga Rp 4 ribu, Rp 5 ribu, dan sekarang Rp 6 ribu," ungkap dia.

Casbari, PKSM dari Desa Mendolo, mengeluhkan adanya hama penyakit yang menyerang tanaman porang. "Saya tanam porang sekian bulan daunnya jadi merah dan umbi masih utuh. Saya juga pakai bibit liar. Bibit unggul bisa didapat dimana," tanya dia.

Ketua DPP PPPN Ngakib Alghozali, berharap agar petani porang Kabupaten Pekalongan bisa lebih berkembang lagi. Karena Kabupaten Pekalongan mempunyai potensi lahan yang luas dan tanahnya juga subur. "Kalau bisa pemda lebih proaktif dalam membina para petani khususnya porang, sampai saat ini saya bilang petani porang masih kecil di Kabupaten Pekalongan," ucapnya.

Partisipasi semua pihak baik swasta dan pemerintah untuk mengembangkan porang di Kabupaten Pekalongan sangat dibutuhkan karena potensi porang tersebut masih sangat bagus. Ngakib juga sedang mendirikan pabrik pengolahan porang di Magelang, dan jangka panjangnya agar nanti di Kabupaten Pekalongan juga sudah ada pabrik.

"Saya ingin di tahun 2022 nanti ada pabrik pengolahan porang di Kabupaten Pekalongan. Kalau memang dari pemda belum bisa menurunkan anggaran untuk pabrik, maka saya tetap dirikan pabrik walaupun dalam konteks pengecipan, belum sampai penepungan," tukasnya.

Sementara itu, Abdul Azizu Rochman menyatakan, potensi lahan di Kabupaten Pekalongan untuk pertanian porang sangat luar biasa tetapi belum serius dikerjakan dan dieksploitasi. "Makanya langkah awal kita dengan bertemu PKSM ini agar semangat menyuluhkan, dan tata cara teknis yang benar kepada masyarakat yang tertarik budidaya porang," ujarnya.

Ini juga sebagai jawaban bahwa komoditas pertanian porang ini bisa menjadi alternatif sebagai jawaban agar petani bisa mendapatkan hasil yang bagus dan sejahtera. Azizu Rochman juga berharap agar bagi masyarakat yang belum berminat untuk bisa budidaya porang bersama-sama untuk kesejahteraan masyarakat itu sendiri.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: