Alat Pendeteksi Longsor Rusak
**Jumlah Tiga, 10 Desa di Kandangserang Rawan Longsor
KANDANGSERANG - Memasuki musim penghujan, bencana tanah longsor dan tanah gerak berpotensi mengancam wilayah pegunungan di Kabupaten Pekalongan. Kecamatan rawan bencana longsor di antaranya Kecamatan Petungkriyono, Lebakbarang, Paninggaran, Kandangserang, Kajen, dan Kesesi.
Namun tiga alat pendeteksi longsor atau Early Warning System (EWS) yang terpasang di zona merah bencana saat ini rusak. Untuk itu, masyarakat di daerah rawan bencana longsor diimbau untuk meningkatkan kewaspadaannya terhadap potensi longsor selama musim hujan 2020/2021.
Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan Budi Raharjo, baru-baru ini, mengatakan, ada tujuh alat untuk mendeteksi ancaman tanah gerak dan longsor di Kabupaten Pekalongan. Menurutnya, dari tujuh alat yang terpasang di titik-titik rawan longsor, ada 3 alat EWS rusak.
"Tiga EWS yang rusak berada di Kecamatan Kandangserang," terang Budi.
Menurutnya, penyebab kerusakan alat EWS itu bermacam-macam. Salah satu di antaranya akibat faktor alam.
"Semua alat EWS bantuan dari provinsi, dan satu buah alat tersebut harganya sangat mahal sekali," ujarnya.
Diungkapkan, tujuh EWS itu terpasang di Desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Desa Kaliombo dan Werdi di Kecamatan Paninggaran, serta Desa Bojongkoneng, Luragung, dan Desa Wangkelang di Kecamatan Kandangserang.
"Kami mengimbau kepada masyarakat untuk menghadapi musim hujan seperti ini. Masyarakat harus meningkatkan kewaspadaan, menjaga kebersihan lingkungan, dan jangan membuang sampah sembarangan," ungkapnya.
10 DESA RAWAN LONGSOR
Tiga alat EWS yang rusak berada di Kecamatan Kandangserang. Padahal, berdasarkan data Radar, sebanyak 10 desa di Kecamatan Kandangserang berpotensi rawan longsor. Oleh karena itu, BPBD Kabupaten
Pekalongan bekerja sama dengan tim ahli dari Universitas Gajah Mada
(UGM) memasang empat Early Warning Sistem (EWS) di dua titik di
wilayah pegunungan tersebut pada tahun 2014. Dengan alat ini, diharapkan bisa mendeteksi sejak dini kemungkinan adanya bencana tanah longsor.
Dari 14 desa di Kecamatan Kandangserang, terdapat 10 desa yang rawan longsor. Sepuluh desa itu masing-masing Desa Gembong,
Karanggondang, Bubak, Garungwiyoro, Bojongkoneng, Luragung,
Wangkelang, Tajur, Trajumas, dan Klesem. Pada awal tahun 2014, satu pedukuhan di Desa Bojongkoneng sudah hilang akibat longsor. Sebanyak 34 rumah di dukuh itu direlokasi ke tempat yang lebih aman.
Tim ahli instrumental Gama EWS UGM, Ikhwan Mustadi, kala itu mengatakan, ada empat alat yang dipasang di Kecamatan kandangserang,
yakni 1 di Dukuh Gamblok, Desa Bojongkoneng, dan 3 di Dukuh
Karanggondang, Desa Bojongkoneng. Selain itu, ada satu alat manual
yang dipasang di Desa Wangkelang. Pemasangan alat EWS di dua lokasi
itu berdasarkan banyak pertimbangan, di antaranya di desa itu sudah
pernah terjadi longsor cukup parah, ada jalan penghubung utama antara Kandangserang dengan Pemalang, dan pertimbangan dari ahli geologi yang sudah diterjunkan ke lokasi.
Diterangkan, EWS terdiri atas tiga komponen utama, yakni rain gate
atau alat pengukur intensitas curah hujan, tilt meter untuk mengetahui sudut kemiringan lereng atau tanah, dan ekstenso meter atau alat untuk mengukur tingkat pergerakan tanah. Setiap alat itu dilengkapi dengan alarm, sehingga masyarakat sekitar bisa mengetahui sejak dini jika kemungkinan ada bencana tanah longsor. (had)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
