Pekalongan akan Jadi Lautan?
**Akademisi Sudah Prediksi Terjadi Banjir Besar
WONOKERTO - Banjir besar di wilayah pesisir Pekalongan paska pembangunan tanggul penahan rob ternyata sudah diprediksi para akademisi. Bahkan, banjir besar terjadi lebih cepat dari prediksi para pakar.
"Sebenarnya banjir bandang sudah diprediksi bakal terjadi lima tahun kedepan setelah pembangunan tanggul tapi ternyata terjadi lebih cepat di tahun 2021 ini," ujar Koordinator Forum Komunikasi Peduli Rob (FKPR) Pekalongan, Dr Mujio SPi MSi, Rabu (24/2/2021).
Mujio yang juga Kepala Divisi Ekonomi Wilayah dan Tata Ruang P4W-IPB, mengaku setuju dengan hasil penelitian Dr Heri Andreas dari ITB. Heri menyatakan, penurunan muka tanah (land subsidence) di pesisir Pekalongan 10 cm - 20 cm pertahun. Namun, kata dia, penurunan muka tanah itu sebenarnya akibat awalnya karena kesalahan perubahan bentang alam, yakni perubahan di muara sehingga terjadi rob.
"Rob ini mengakibatkan tanah menjadi gembur. Sementara itu diperparah dengan adanya eksploitasi air tanah seperti dari Pamsimas dan lainnya. Sebenarnya efek domino. Kalau saat ini (banjir) disebabkan oleh penurunan," terang dia.
Dikatakan, FKPR dari awal tidak menolak pembangunan tanggul penahan rob. FKPR setuju pembangunan itu. Namun ia mengharapkan pembangunan itu terbuka sehingga bisa didiskusikan bersama.
"Namun dari awal tanggul itu kaya tertutup. Tidak ada keterbukaan. Bagamana pun masyarakat kan yang tahu lokasi di situ.
Berapa kapasitas tanggul tidak dijawab, berapa kapasitas tanggul itu untuk bisa menampung air. Air hujan banyak sekali. Sungai-sungai banyak ditutup kan air ndak bisa lari ke laut. Pada saat rob kita terselesaikan untuk Wonokerto dan sekitarnya. Tapi untuk banjir tidak terselesaikan malah tambah parah," ujar dia.
Kenapa banjir di Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan parah?. Kata dia, dikarenakan air yang tadinya ditutup akan lari ke Kota Pekalongan dan Kabupaten. Pekalongan.
"Sehingga memang dari depan saya menyampaikan perencanaan tanggul bukan berbasis yurisdiksi tapi berbasis kewilayahan. Dalam artian harus satu kesatuan. Jangan sampai membikin tanggul di Kabupaten Pekalongan tapi menimbulkan banjir di kota. Harus terintegrated," ujar dia.
"Sehingga kita itung-itungan saat ini dengan kapasitas pompa, kapasitas hujan, seperti kolah buat mandi. Mas Hadi nyedot kolah pakai sedotan. Bayangin cuba," ungkapnya.
Ia menyarankan, tanggul ke depan harus dievaluasi, baik dari segi kapasitas dan kualitasnya. Sementara kewenangan itu bukan kewenangan kabupaten tapi pusat.
"Maka kemarin kita ngajak mari bersama-sama berpikir bersama. Jangan top down lah," ujar dia.
Menurutnya, permasalahan banjir dan rob di pesisir akibat perubahan bentang alam di beberapa muara. Ia menyarankan sebagai solusi jangka panjang kembalikan lagi muara ke semula untuk mengurangi debit.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
