Program Setara Dipertanyakan
**Kondisi Jalan Wilayah Atas Memprihatinkan
KANDANGSERANG - Kondisi jalan di wilayah bagian selatan Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, masih banyak yang rusak parah. Utamanya dari ruas Garungwiyoro, Sukoharjo, Trajumas, hingga Klesem.
Slogan setara (sejahtera, adil, dan merata) pun dipertanyakan. Pasalnya, pembangunan dinilai masih diskriminasi antara wilayah atas dan bawah.
Berdasarkan pantauan Radar, akses jalan di Kecamatan Kandangserang dari Kota Kajen hingga ibukota kecamatan cukup bagus. Meskipun di beberapa ruas jalan mulai berlubang. Jalan dari kota kecamatan hingga Garungwiyoro juga bagus. Namun kondisi jalan dari Garungwiyoro (Cangkring) ke selatan sebagian besar jalannya rusak parak. Seperti ruas Cangkring-Sukoharjo-Trajumas hingga ke Klesem.
Kerusakan jalan di wilayah pegunungan itu menjadi sorotan anggota DPRD Kabupaten Pekalongan dari Fraksi PKB, M Nasron. Menurutnya, kondisi jalan di wilayah atas yang rusak itu seharusnya menjadi skala prioritas Pemkab Pekalongan.
Kritikan jalan itu pun juga dilontarkannya saat kepemimpinan Bupati Asip Kholbihi. Karena akses jalan yang rusak itu memengaruhi akses pendidikan, kesehatan, dan perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.
"Dulu Pak Asip walaupun bupatinya dari PKB juga saya kritik. Dulu kan ruas tuntas ya. Ternyata kan ndak tuntas. Saya dulu kan selalu gembar gembor itu. Karena dulu itu Kandangserang rusak parah," kata dia.
Saat itu akhirnya ruas jalan Kandangserang - Cangkring dibangun dengan anggaran Rp 4 miliar. Demikian pula ruas Kandangserang - Luragung dianggarkan Rp 4 Miliar.
"Ditambah dengan pokir saya kecil-kecil sampai Cangkring itu sudah mending. Sebelum Pak Asip, dari Kandangserang - Cangkring rusak parah. Mobil itu ndak bisa. Saya usulkan terus," kata dia.
Kondisi jalan Kandangserang - Cangkring sekarang bagus. Yang perlu diperhatikan saat ini adalah ruas Cangkring - Klesem. Ia berharap, di bawah kepemimpinan Bupati Fadia Arafiq dengan slogan 'setara'nya sejumlah ruas jalan kabupaten di Kandangserang bisa segera digarap.
"Dari Cangkring hingga Klesem ini yang butuh perhatian. Ini di bawah kepemimpinan Bu Fadia dengan setara sudah berjalan hampir dua tahun kok belum ada respon. Anggarannya malah untuk penataan alun-alun. Alun-alun ini menurut saya kan diskriminasi untuk daerah atas. Seharusnya diwujudkan slogan setara itu. Sejahtera adil dan merata. Baik di medsos, di rapat-rapat, baik itu rapat dengan PU, di rapat anggaran, musrenbang itu saya gembar gembor. Musrenbang di kecamatan itu sebenarnya saya malu. Sering diusulkan tapi ternyata di anggaran tidak ada," ungkapnya.
Semestinya pembangunan jalan di wilayah atas yang masih rusak menjadi skala prioritas. "Mestinya tidak memprioritaskan alun-alun dulu. Hibah-hibah juga banyak. Maksud saya bukan tidak perlu tapi prioritasnya harusnya lebih penting jalan di atas. Misalkan dibanding hibah pembelian pakaian anak sekolah. Itu penting tapi ndak harus dipaksakan. Masyarakat masih bisa beli pakaian," kata dia.
Ia mengaku kerap melintasi jalanan di wilayah itu. Sebagai wakil rakyat dari daerah itu, ia pun mengaku malu. Meski sering memperjuangkannya, namun tak kunjung digarap.
"Saya hampir tiap minggu lewat sampai malu. Banyak warga yang ingin pindah ke Banjarnegara. Karena jalan di perbataaan Klesem - Kalibening sudah bagus sekali tapi yang ke sini seperti itu," katanya. (had)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
