iklan banner Honda atas

Relokasi Solusi Ideal Untuk Simonet

Relokasi Solusi Ideal Untuk Simonet

"Walaupun air laut masuk ke rumah, saya masih bertahan karena sudah tidak ada tempat yang bisa dihuni lagi. Mau pindah tidak punya uang," tandasnya.

Sunaryo mengatakan, ada 265 jiwa di RT 14 yang terdampak abrasi. Pemerintah menjanjikan akan segera merelokasi warga Dukuh Simonet ke tempat yang lebih aman, namun saat ini belum terealisasi.

"Semua warga siap apabila relokasi," katanya.

Ia menambahkan, prediksi BMKG pada bulan Februari air laut akan tinggi lagi.

"Sudah ada prediksi dari BMKG air laut akan naik, jadi saya selalu mengimbau kepada warga untuk waspada," tambahnya.

Hal yang sama dikatakan Daesan (50). Menurutnya, ombak kalau pada malam hari sangat mengerikan.

"Rumah saya sudah kemasukan pasir. Pintu belakang rumah sudah ditanggul dan dipaku agar air laut tidak masuk ke dalam rumah," katanya.

Air laut pasang, kata dia, biasanya terjadi pada malam hari. Sehingga setiap malam ia bersama warga lainnya selalu waspada.

"Dari empat rumah yang berada di deretan rumah saya, tiga rumah masih ditinggali dengan kondisi rusak, dan satu rumah sudah tidak ditinggalli oleh penghuninya," terang dia.

Daesan mengaku tetap bertahan di rumah karena tidak punya rumah lainnya untuk dijadikan tempat tinggal.

BANGUN TANGGUL DARURAT

Sementara itu, Sunaryo mengatakan, tanggul darurat yang dibuat warga semuanya swadaya.

"Tanggul yang dibuat ini tujuannya untuk menghalangi gelombang air laut dan pasir masuk ke rumah" kata Sunaryo.

Menurutnya, apabila tidak ditanggulangi seperti itu air laut dan pasir pasti masuk rumah.

"Setidaknya bisa mengurangi terjangan gelombang pasang dengan adanya tanggul darurat ini," ujarnya.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: