iklan banner Honda atas

Rob, Petambak Utara Tanggul Menjerit

Rob, Petambak Utara Tanggul Menjerit

WONOKERTO - Tambak di utara tanggul melintang penahan rob dan banjir kondisinya kian parah. Petambak merugi akibat tambak kerap terendam banjir rob. Sebagian dari petambak memilih menelantarkan tambaknya karena terus merugi akibat tambak mereka terendam banjir rob.

"Mata pencaharian pemilik tambak di utara tanggul sekarang gentayangan. Tambak podo kelem.

Ada ratusan hektar di utara tanggul. Di Desa Api Api saja masih ada 150 hektar yang berada di utara tanggul," terang warga Desa Api Api, Kecamatan Wonokerto Subhan, Kamis (28/1/2021). Akibat kerap terendam banjir rob, kata dia, petambak tidak bisa menebar benih. Beberapa petambak masih berupaya menebar benih ikan di tambaknya dengan memberi pagar pengaman atau waring.

"Sementara diakali pasang waring mubeng. Intinya ya spekulasi ndak berani banyak-banyak. Hanya untuk kegiatan," ujar dia.

Meskipun sudah dipasang waring, ketinggian banjir rob terkadang masih di atasnya. Sehingga ikan di tambak masih bisa lari tersapu banjir rob.
"Punya saya saja ada dua tambak, saya biarkan terlantar. Karena kalau mau dimanfaatkan modalnya banyak," katanya.

Diterangkan, pada tahun 2015-2016 kondisi tambak masih normal. Kondisi tambak parah mulai tahun 2019.

Dikatakan, pada saat kondisi normal, 1 hektar tambak bisa muat 4 ton bandeng. Jika standar harga bandeng Rp 20 ribu/kg, maka akan didapatkan penghasilan Rp 80 juta.

"Dikurangi biaya pakan 6 ton. Masih sisa kisaran Rp 30-an juta. Bandeng lima bulan panen. Satu tahun bisa dua kali. Penghasilan saat normal masih bisa untuk memenuhi kebutuhan. Satu musim panen nyari Rp 20 juta hingga Rp 30 juta nemu lah perhektarnya," kata dia.

Dengan adanya rob, lanjut dia, kehidupan petambak di utara tanggul kian susah. Untuk bertahan hidup dengan mengandalkan hasil tambak saja sulit.
"Rata-rata gagal panen. Yang dulu 4 ton sekarang keluar maksimal 2 ton. Biaya produksi tinggi. Pakan Rp 20-an juta. Dapatnya uang Rp 40 juta, dipotong pakan Rp 20-an juta dan biaya operasional Rp 5 juta, dapatnya Rp 10 juta paling banyak. Itu maksimal. Kalau diterjang rob besar ya bisa rugi," ungkap dia.

Oleh karena itu, kata dia, petambak di utara tanggul saat ini bekerja serabutan untuk bertahan hidup. "Kadang jadi buruh, berdagang di pasar, dan lainnya. Kebanyakan menjadi nelayan. Kondisi cuaca seperti ini ya banyak yang ndak berangkat melaut. Kerja apapun hanya bisa untuk bertahan hidup lah sekarang ini," tutur dia. (had)

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: