iklan banner Honda atas

Sekolah Negeri Minus Siswa

Sekolah Negeri Minus Siswa

**Diprediksi Lari Ke Ponpes, Swasta, dan PKBM

KAJEN - Banyak sekolah SD dan SMP negeri di Kabupaten Pekalongan diperkirakan akan kekurangan murid saat penerimaan peserta didik baru (PPDB) tahun ajaran 2021/2022. Pasalnya, banyak orang tua yang memilih mengirim anaknya ke pondok pesantren, atau menyekolahkan anaknya di sekolah swasta. Selain itu, sekolah kesetaraan atau PKBM juga kian dilirik masyarakat untuk menuntaskan wajib belajarnya.

Plt Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan Siti Masruroh, Rabu (30/6/2021), mengatakan, laporan secara detail dari masing-masing satuan pendidikan belum masuk ke dinas karena saat ini masih proses daftar ulang. Meski demikian, ia mengakui banyak sekolah negeri (SD dan SMP) yang masih kekurangan murid baru. "Banyak sekolah yang masih kekurangan murid," kata dia.

Jumlah sekolah yang kekurangan atau kelebihan murid untuk saat ini hanya bisa dilihat pada SMP negeri yang proses pendaftarannya melalui sistem online. Di Kabupaten Pekalongan, kata dia, ada 39 SMP negeri yang membuka pendaftaran peserta didik baru dengan sistem online.

Disebutkan, dari 39 SMP negeri itu, total kuota 7392 siswa. Namun jumlah anak yang mendaftar hanya 6496. Artinya, masih ada kekurangan 896 murid baru.

Dari 39 sekolah itu, kata dia, 20 sekolah kuotanya sudah terpenuhi, dan 19 sekolah lainnya kuotanya belum terpenuhi.
"Itu yang terpantau hanya di sekolah SMP negeri yang menggunakan sistem online. Di Kabupaten Pekalongan ada 63 SMP negeri. Sebanyak 24 lainnya masih offline. Yang offline belum terpantau," ungkap dia.

Menurutnya, ada beberapa faktor anak tidak masuk sekolah negeri di suatu wilayah. Di antaranya, anak sudah memiliki pilihan sendiri untuk sekolah dimana; minat masyarakat untuk menyekolahkan anaknya di sekolah tertentu tinggi, sehingga sekolah lainnya di sekitar sekolah tersebut kekurangan anak; orang tua memondokan anaknya di pondok pesantren; hingga pilihan ke sekolah swasta dan PKBM (sekolah kesetaraan).

"Kita bisa laporan resmi nanti di akhir tahun setelah disisir oleh penilik nonformal. Berapa anak yang sekolah dan tidak bisa dilihat di bulan September," kata dia.

Kenapa September?. Sebab itu lah waktu pendaftaran sekolah kesetaraan ditutup. Sehingga penyisiran anak yang melanjutkan pendidikan ke jenjang SD dan SMP sederajat bisa disisir semua.

"Nanti akan ada penyisiran oleh tim kudu sekolah. Misalnya apakah anak sudah mondok atau belum. Penyisiran sampai saat pendaftaran kesetaraan selesai pada bulan September," kata dia.

Untuk SD karena sistem offline, lanjut dia, dinas belum bisa membaca datanya. "Kalau offline kita nunggu hingga daftar ulang selesai pada 4 Juli," ujar dia.

Disinggung kondisi PPDB di wilayah pegunungan, ia menyatakan banyak sekolah di wilayah atas yang kekurangan murid. Ia menyebutkan, di SMP Negeri Petungkriyono kuotanya 96 murid untuk tiga kelas. Jumlah murid perkelas 32 anak. "Sampai saat ini yang mendaftar baru 49. Siswanya kemana itu sampai September baru bisa disisir," ungkap dia.

Bisa jadi anak-anak itu mondok di ponpes. Karena program ayo mondok sukses. Anak-anak yang tidak masuk SMP negeri itu juga bisa masuk ke sekolah kesetaraan (PKBM).

"Di Petung di beberapa desa jaraknya ke SMP negeri jauh sehingga lebih milih sekolah di paket B. Kelebihan sekolah kesetaraan ini bisa sambil kerja.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: