Musim Panen, Harga Gabah Jeblok
*) Hasil Panen Mayoritas Dibawa ke Luar Daerah
KAJEN - Meski sebagai sentra pertanian, namun hasil produksi gabah tidak lagi menjanjikan. Sebab disaat panen, harga gabah di lapangan malah jeblok.
Adapun dari data dihimpun harga gabah basah, untuk saat ini tidak mencapai Rp 400 ribu pekuintal. Padahal untuk sebelumnya bisa mencapai Rp 500 perkuintal bahkan lebih.
Seorang Petani, Mito mengaku hasil panen padi kemarin dijual dengan harga cukup murah. "Untuk satu iring hanya dihargai Rp 1,3 juta, padahal biaya pengolahan sekali panen lebih dari Rp 1,5 juta, " keluhnya.
Diakui padahal untuk tahun sebelumnya hasil panen padi bisa mencapai Rp 2,5 juta. Adapun selain harga gabah murah, disaat musim tanam petani kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi. "Punya kartu tani tapi tidak sesuai dengan luasan jadi petani harus beli pupuk tambahan non subsidi, " imbuhnya.
Terpisah salah seorang penebas padi asal Kecamatan Kesesi, Rais mengaku musim panen awal tahun 2021 saat ini harga gabah perkuintal hanya dihargai Rp 380 ribu. Adapun gabah tersebut merupakan hasil petikan menggunakan alat combi/ Combat. Sedangkan yang menggunakan blower tidak laku, karena tidak ada pedagang dari luar kota yang menampung.
"Pembeli sekala besar sebagian dari Demak, jadi kita yang dilapangan harus mengikuti harga mereka. Kalau tidak ya, bisa tidak laku karena untuk pedagang lokal sudah jarang, " katanya.
Diakui, untuk alat pemotong padi kini mayoritas sudah menggunakan alat combi karena selain hasilnya sudah bersih untuk rendemen lumayan tinggi.
"Untuk hasil rendemen berasnya combi bisa mencapai 60 kilogram beras, itu dari hasil giling satu kuintal gabah. Sedangkan blower rendemen saat ini dibawah 50 kilogram," imbuhnya. (Yon)
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
