Banjir hingga Satu Meter, Wilayah Pesisir Terisolir
TIRTO - Banjir di wilayah utara atau hilir Pekalongan justru kian besar akibat kiriman air dari wilayah selatan, Selasa (9/2/2021) kemarin. Sejumlah desa di pesisir terisolasi karena ketinggian banjir 50 cm hingga 1 meter lebih.
Salah satu desa yang terisolir adalah Desa Jeruksari. Desa paling utara di Kecamatan Tirto. Ketinggian banjir di desa ini bervariasi antara 50 cm hingga 1 meter lebih. Untuk aksesibilitas warga setempat menggunakan perahu sopek milik para nelayan.
"Banjir kian besar sejak Senin (8/2/2021) sore. Ketinggian air bervariasi, ada yang 1 meter, ada yang lebih. Setengah meter ya ada kalau tanahnya tinggi. Kalau rumah ya hampir semuanya masuk," tutur warga Desa Jeruksari, Nurkholis, kemarin sore.
Nurkholis tidak bisa membayangkan kondisi rumah yang tidak ditinggikan. Rumahnya yang sudah sering ditinggikan saja, air tetap masuk ke dalam rumah.
"Rumah saya sudah berkali-kali ditinggikan. Sudah tinggi sekali. Ini saja air masuk dengan ketinggian 5 cm. Ini saja terakhir saya tinggikan 1 meter dari jalan. Bayangkan rumah lainnya seperti apa. Bisa hampir separo rumah terendam banjir," ungkap dia.
Dikatakan, mobilitas warga terputus. Untuk keluar masuk kampung, warga naik perahu sopek milik nelayan yang dibawa ke desa. "Relawan-relawan, tenaga kesehatan juga naik itu," kata dia.
Meskipun banjir merendam pemukiman, namun masih banyak warga yang bertahan di rumah atau tidak mengungsi. Mereka pun hidup seadanya. "Mereka hidup seadanya seperti di tengah laut. Jika ada mi instan ya dimasak. Kompor diamankan. Tidur cari tempat-tempat yang aman. Biasanya punya tempat tidur tingkat ya tidur di situ," terang dia.
Untuk MCK (mandi, cuci, kakus), kata dia, warga sulit. "Kita ndak berpikir ke situ. Kesehatan nomor dua. Nomor satu yang penting bisa aman," ujar dia.
Di tengah pandemi Covid-19, kata Nurkholid, di pengungsian akan lebih sulit menjaga diri dari paparan virus corona. Pasalnya, kerumunan akan sulit dijaga. "Di kampung, di rumah seperti saya kan seperti orang menjalani isolasi. Seperti karantina mandiri. Ndak kemana-mana," kata dia.
Warga hanya berharap kebutuhan sehari-hari terpenuhi terutama makan dan minumnya. Petugas kesehatan juga bisa melakukan pelayanan kesehatan secara mobile karena dikhawatirkan jika banjir masih terus bertahan kesehatan warga akan menurun.
"Di dekat rumah saya ada posko. Tadi saya lihat ya kosong. Yang dimasak ndak ada. Yang dibagi ndak ada. Warga dan relawan tadi ada yang beli ketela pohon dimasak di situ," ungkap dia.
Ia berharap, banjir bisa segera surut. Pemerintah pun ada kepedulian terhadap warga yang tidak mengungsi. "Terutama untuk kebutuhan sehari-hari dan perhatian terhadap kondisi kesehatan yang saya khawatirkan menurun. Setidaknya yang buat makan itu ada sudah terasa ayem. Karena lama-lama jika tidak dipenuhi bisa-bisa jika ada bantuan rebutan. Secara moralitas kan ndak baik, padahal mereka butuh," katanya.
Setidaknya, lanjut dia, didirikan dapur umum di lokasi banjir dan pemerintah mendropping logistiknya di dapur-dapur umum tersebut. "Warga yang tidak mengungsi kan banyak juga," imbuh dia.
Camat Tirto Agus Dwi Nugroho, mengatakan, banjir di wilayah Tirto belum surut. Bahkan, banjir di wilayah utara justru naik karena air dari selatan mengalir ke utara semua. "Yang terakhir itu rata-rata ketinggiannya 50 centi hingga 100 centi," terang dia.
Dikatakan, sejak tiga hari lalu, tim gabungan dari BPBD, Tagana, TNI, Polri, PMI, dengan menggunakan perahu karet diterjunkan untuk mengevakuasi warga ke titik pengungsian yang aman. Menurutnya, jumlah pengungsi hingga kemarin pagi bertambah. "Jumlah pengungsi yang terdata sampai pagi tadi karena ini mobile sekitar 1600-an orang," kata dia.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
